Oleh: Siti Khumairoh
Saya sering membayangkan berdiri di Banda Aceh empat abad lalu. Di kompleks istana yang kini kita kenal sebagai Meuligoe Aceh, terdapat lapangan yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Pada 1621, seorang pedagang Prancis, Augustin de Beaulieu, melihat Aceh bagaikan panggung teater raksasa bagi gajah. Sejarawan Denys Lombard bahkan menyebut gajah begitu melimpah sehingga kota ini nyaris tak butuh benteng, karena gajah-gajah itulah bentengnya. Sebuah catatan sejarah menaksir gajah milik sultan saja tidak kurang dari 900 ekor, dan sultan sendiri menunggangi gajah putih bernama Biramsattani. Sekarang, seandainya waktu itu ada yang berkata bahwa gajah suatu hari bisa habis di tanah ini, adakah yang akan percaya?
Kini gambarnya sangat berbeda. Menurut catatan BKSDA Aceh, pada 2011 gajah di Aceh tinggal 540 ekor. Estimasi terbaru dalam strategi konservasi 2026-2036 menyebut sekitar 510-608 individu di Aceh, tersebar di lima kantong populasi. Angkanya memang tidak jauh berbeda dari 2011, tetapi ancamannya belum reda. BKSDA Aceh mencatat kematian gajah 1 kasus pada 2022, lalu 9 kasus pada 2024 dan 7 kasus pada 2025. Pada 9 Agustus 2026, seekor gajah jantan ditemukan mati di kebun sawit di Aceh Tamiang. Di tingkat pulau, gajah sumatera sudah berstatus kritis, dan seorang pakar IPB menyebut populasinya menurun lebih dari 70 persen dalam tiga generasi. Yang dulu dimuliakan, kini terhimpit habitatnya, diburu, dan sering dianggap hama.
Kisah itu menyimpan pelajaran, hewan yang dulu ada di mana-mana bisa menjadi langka tanpa kita sadar. Lalu saya menoleh ke sekitar, dan kucing ada di mana-mana. Di jalan, mereka melintas di antara kendaraan yang berlalu-lalang. Di sekolah dan di kantor, mereka menyelinap ke sela-sela ruangan. Di pasar dan di warkop, mereka menunggu sisa makanan atau tidur di kursi kosong. Di teras rumah, mereka berbaring tanpa peduli siapa yang lewat. Bagi pencinta kucing, itu pemandangan biasa yang menyenangkan. Bagi yang tidak menyukainya, kucing hanyalah hewan pengganggu, bulunya rontok, suaranya berisik, dan mereka mengais sisa makanan.
Karena begitu sering terlihat, kita jarang membayangkan kucing bisa hilang. Padahal dulu pun tak ada yang membayangkan gajah menjadi langka di tanah yang pernah memuliakannya.
Tren yang lebih luas menguatkan kekhawatiran ini. Pada penilaian IUCN sekitar 2019, dari 105.732 spesies yang dinilai, sekitar 28.338 (27%) berisiko punah. Data Juli 2026 menunjukkan setidaknya 18.825 spesies hewan berstatus terancam punah, dan Indonesia menempati urutan pertama dengan 1.370 spesies. Negeri kita kaya satwa, sekaligus memiliki daftar satwa terancam yang paling panjang.
Tapi jujur saja, kucing memang punya dua sisi, dan opini ini tidak akan adil kalau hanya membela satu pihak.
Dari sisi positif, kucing terbukti memberi manfaat bagi manusia. Mengelus bulunya dapat memicu pelepasan hormon oksitosin dan menurunkan kadar kortisol, hormon stres. Kehadirannya juga bisa mengurangi rasa kesepian, terutama bagi orang yang tinggal sendirian. Di warkop, di teras rumah, atau di sudut sekolah dan kantor, kucing yang menghampiri sering menjadi penghibur kecil dan bahan obrolan yang mencairkan suasana. Ada pula kemungkinan peran lain yang jarang disadari, yaitu membantu menjaga rumah, pasar, dan tempat makan dari tikus, meski hal ini belum dibuktikan dengan data.
Dari sisi negatif, keluhan mereka yang tidak suka kucing juga punya dasar. Air liur dan serpihan kulit kucing dapat memicu alergi. Kucing juga bisa membawa penyakit zoonosis, misalnya toksoplasmosis, parasit yang dikeluarkan lewat kotoran dan bisa menyerang manusia. Di tempat yang menyajikan atau menjual makanan, seperti warkop, rumah makan, atau pasar, kucing yang mengais atau naik ke meja tentu bukan pemandangan yang higienis bagi semua orang. Meski begitu, risiko ini bisa dikurangi dengan kebersihan. Bahkan sebuah sumber medis menyebut bahaya toksoplasma pada ibu hamil umumnya bukan datang dari bulu kucing rumahan, melainkan dari makanan mentah. Jadi masalahnya bukan pada keberadaan kucingnya, tetapi pada cara kita mengelolanya.
Lalu bagaimana kalau kucing bernasib seperti gajah? Jalan, sekolah, kantor, dan warkop akan kehilangan penghuni tak resmi yang membuat suasananya hidup. Kita kehilangan penghibur yang mengurangi penat tanpa diminta. Dan yang paling berat, kita kehilangan kesempatan belajar hidup berdampingan dengan makhluk lain, termasuk yang kita anggap mengganggu.
Tentu kucing rumahan tidak sedang terancam punah, dan ini hanyalah pengandaian. Tapi pengandaian itu berguna sebagai cermin. Kita cepat menyayangi hewan yang langka, tetapi sering abai pada yang biasa. Padahal yang biasa hari ini bisa menjadi kenangan esok hari.
Jangan menunggu suatu makhluk hampir hilang baru kita peduli. Bagi pencinta kucing, sayangi dengan bertanggung jawab beri makan teratur, sterilisasi agar populasinya tidak liar, dan jaga kebersihan tempat yang dikunjungi kucing. Bagi pemilik warkop, rumah makan, dan pedagang di pasar, jaga kebersihan area makan supaya kucing dan pengunjung bisa berbagi ruang dengan nyaman. Bagi yang tidak menyukai kucing, tidak apa-apa tidak suka, tetapi cukup jauhi tanpa menyakitinya. Karena kepedulian yang paling berarti adalah yang kita berikan selagi mereka masih ada.
Jadi, bagaimana jika kucing punah? Saya khawatir saat itu kita baru sadar bahwa yang selama ini kita anggap pengganggu adalah bagian dari keseharian kita.(*)











