SEANTERONEWS.com – Pemerintah Indonesia kembali mengambil peran strategis dalam kancah diplomasi internasional dengan mengusulkan konsep kerja sama kota cerdas (smart city) untuk mempererat hubungan antara negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan aliansi kawasan Amerika Latin, Pacific Alliance.
Gagasan tersebut disuarakan secara langsung oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, saat menghadiri Pertemuan ke-9 Tingkat Menteri Luar Negeri ASEAN-Pacific Alliance. Agenda penting ini dihelat di sela-sela rangkaian High Level Week Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York, Amerika Serikat, pada Selasa (22/9/2026).
Pertemuan tingkat menteri tersebut dipimpin bersama oleh Thailand yang bertindak sebagai koordinator kemitraan ASEAN-Pacific Alliance untuk tahun 2026 serta Meksiko selaku Ketua Pro Tempore Pacific Alliance. Forum ini menjadi momentum krusial mengingat relasi lintas kawasan tersebut kini bersiap menyongsong usia dua dekade.
Di hadapan para delegasi mancanegara, Menlu Sugiono menyoroti bahwa integrasi antara Asia Tenggara dan empat negara anggota Pacific Alliance (Meksiko, Peru, Cili, serta Kolombia) telah menunjukkan tren positif, baik dari sisi arus perdagangan maupun pertukaran sosial. Kendati dipisahkan oleh bentangan geografis yang luas, kedua belah pihak dinilai memiliki visi yang selaras dalam merawat keterbukaan ekonomi.
Kendati demikian, Sugiono memandang bahwa jalinan kerja sama konvensional saja belum cukup. Konektivitas antarkedua kawasan perlu diredefinisi agar melampaui batas-batas infrastruktur fisik semata.
“ASEAN dan Pacific Alliance membutuhkan konektivitas yang lebih kuat. Tidak hanya konektivitas fisik, tetapi juga konektivitas digital dan hubungan antarmasyarakat. Ini bertujuan untuk mewujudkan kemitraan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” ungkap Sugiono dalam forum tersebut.
Sebagai solusi taktis, Indonesia menawarkan inisiatif pembangunan jejaring kota cerdas. Melalui skema ini, pusat-pusat pertumbuhan dan metropolitan di kawasan ASEAN didorong untuk membangun aliansi strategis dengan kota-kota utama di kawasan Amerika Latin.
Langkah ini diyakini mampu membuka ruang dialog yang lebih cair, khususnya bagi pemerintah daerah, pelaku usaha lokal, kaum akademisi, hingga generasi muda dalam memecahkan berbagai tantangan urbanisasi modern. Lebih lanjut, pendekatan ini juga melengkapi agenda regional yang tengah digenjot, seperti transformasi digital, penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ekonomi hijau, hingga sektor pariwisata berkelanjutan.
Rekam jejak kerja sama lintas kawasan sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, pada tahun 2025, kedua belah pihak sukses meluncurkan ASEAN-Pacific Alliance Online Learning Initiative on Tourism sebagai wujud nyata sinergi sektor pariwisata berbasis pendidikan. Ke depan, gagasan jejaring kota cerdas diharapkan mampu memperluas cakupan tersebut ke ranah tata kelola lingkungan, mobilitas publik, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik.
Melalui terobosan diplomasi perkotaan ini, Indonesia berharap kemitraan strategis antara ASEAN dan Pacific Alliance tidak sekadar berhenti pada level birokrasi tingkat tinggi antarpemerintah (state-to-state). Lebih dari itu, kerja sama ini mampu meresap hingga ke akar rumput melalui kolaborasi aktif antarmasyarakat demi masa depan kawasan yang inklusif dan berdaya saing global.[]











