SEANTERONEWS.com – Kemeriahan gelaran akbar olahraga dunia seperti Piala Dunia selalu membawa kegembiraan tersendiri bagi para penggemar. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan celah kejahatan siber yang siap mengintai para fans.
Mulai dari kemunculan situs streaming ilegal, penipuan tiket palsu, aplikasi taruhan fiktif, hingga investasi kripto bodong menjadi sederet modus yang kerap dilancarkan para peretas untuk menguras isi dompet korbannya. Penipuan musiman ini hanyalah satu dari beberapa isu keamanan digital krusial yang terjadi di dunia siber belakangan ini.
Dilema Lonjakan Penggunaan VPN
Di tengah meningkatnya regulasi verifikasi usia dan sensor konten berbasis lokasi di berbagai belahan dunia, penggunaan Virtual Private Network (VPN) dilaporkan melonjak drastis. Sebagai contoh, di India, masyarakat memanfaatkan VPN untuk mengakses Telegram pascapemblokiran nasional yang diterapkan guna mencegah kebocoran soal ujian nasional.
Meskipun VPN sangat berguna untuk melindungi privasi data dari pelacakan penyedia layanan internet (ISP), pemerintah, maupun peretas, penggunaannya tidak selalu legal di setiap negara. Di samping itu, anggapan bahwa VPN dapat mempermudah pemesanan tiket pesawat murah atau mengamankan transaksi perbankan daring dinilai kurang tepat karena justru kerap memicu masalah teknis baru pada sistem keamanan bank.
Penyalahgunaan Kamera Pengawas oleh Oknum Aparat
Isu penyalahgunaan teknologi juga membayangi sektor penegakan hukum di Amerika Serikat. Kamera pengawas pelat nomor kendaraan bermotor milik perusahaan Flock, yang awalnya ditujukan untuk membantu kepolisian melacak pelaku kriminal, dilaporkan kerap disalahgunakan oleh oknum aparat untuk menguntit (stalking) warga sipil.
Laporan terbaru dari media teknologi 404 Media mengungkapkan adanya belasan kasus pelanggaran hukum, di mana oknum polisi melacak pelat nomor mantan pasangannya hingga puluhan kali tanpa izin resmi atau kebutuhan penyidikan. Fenomena ini membuktikan bahwa alat pengawasan massal tetap rentan disalahgunakan meskipun memiliki batasan akses yang ketat.
Penyebaran Malware Melalui Fitur Steam Workshop
Bagi para pengguna komputer pribadi (PC), ancaman siber baru juga menyusup melalui aplikasi personalisasi desktop populer, Wallpaper Engine, di platform Steam. Laporan dari perusahaan keamanan Kaspersky mengungkapkan bahwa peretas memanfaatkan fitur Steam Workshop untuk menyebarkan malware melalui format “wallpaper aplikasi”.
Berbeda dengan wallpaper berbasis video biasa, format wallpaper aplikasi ini merupakan berkas eksekusi (executable) utuh yang berjalan di latar belakang sistem komputer. Jika dijalankan, malware tersebut berpotensi membuka pintu belakang (backdoor) sistem, membajak akun Steam pengguna, hingga melakukan aktivitas penambangan kripto (crypto mining) ilegal secara diam-diam. Pihak Steam telah menghapus wallpaper berbahaya tersebut, namun sebagian di antaranya telah terlanjur diunduh hingga puluhan ribu kali oleh pengguna.
Penyalahgunaan Portal Pengaduan Kebocoran Data di Maine
Sementara itu, di sektor administrasi publik, otoritas di negara bagian Maine, Amerika Serikat, terpaksa menutup sementara portal pengaduan kebocoran data mereka. Berdasarkan aturan wilayah tersebut, perusahaan wajib melaporkan kebocoran data dalam kurun waktu 30 hari. Namun, portal ini ternyata tidak dilengkapi sistem verifikasi identitas pelapor yang memadai.
Berdasarkan laporan Bitdefender dan Bleeping Computer, celah keamanan ini dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mengirimkan laporan palsu mengenai kebocoran data skala besar di platform Discord dan VRChat. Setelah dikonfirmasi dengan kedua perusahaan terkait dan dipastikan fiktif, pemerintah setempat segera menurunkan laporan palsu tersebut dan menonaktifkan fitur pengaduan untuk sementara waktu guna memperbarui sistem verifikasi data pengirim.










