MEULABOH – Luas area kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat, diperkirakan telah melanda area seluas 280 hektare. Estimasi kerusakan lingkungan tersebut diperoleh berdasarkan hasil analisis pemantauan berbasis teknologi satelit.
Hasil perhitungan spasial ini dirilis oleh Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) setelah mencermati data citra satelit terbaru di wilayah terdampak.
“Berdasarkan pemantauan citra satelit PlanetScope tertanggal 8 Juni 2026, area lahan yang hangus terbakar diestimasi telah mencapai kisaran 280 hektare,” terang Manager Geographic Information System (GIS) HAkA, Lukmanul Hakim, pada Kamis (11/6/2026).
Lukman menjelaskan bahwa sebaran titik api yang dipantau terkonsentrasi di sekitar wilayah Gampong Kuta Padang, Gampong Beurawang, dan Gampong Pange di Kecamatan Bubon.
Guna menjamin akurasi data wilayah administratif, tim GIS HAkA melakukan verifikasi spasial dengan mencocokkan koordinat sebaran api dengan data batas desa terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) pemutakhiran tahun 2025.
“Kami mengandalkan pemantauan berbasis satelit ini secara berkala untuk memetakan lokasi presisi, memantau laju perkembangan api, serta mengukur seberapa luas dampak kerusakan lahan yang ditimbulkan,” tambahnya.
Dalam operasionalnya, instrumen sensor VIIRS dan MODIS digunakan untuk melacak kehadiran titik panas (hotspot). Sementara itu, citra satelit resolusi tinggi PlanetScope diaplikasikan khusus untuk menghitung kalkulasi luas lahan yang terbakar.
Berdasarkan kronologi data pemantauan, indikasi titik panas pertama kali terekam oleh instrumen satelit pada 28 Mei 2026 di sekitar koordinat 4° 18′ 33″ Lintang Utara dan 96° 03′ 44″ Bujur Timur. Aktivitas pembakaran lahan tersebut masih terus terdeteksi hingga tanggal 7 Juni 2026.
Meskipun peta sebaran menunjukkan titik panas masih terkonsentrasi di dalam perimeter Kecamatan Bubon, tim teknis HAkA masih melakukan rekapitulasi data sensor satelit secara mendalam untuk merinci jumlah pasti titik api secara akurat. Data awal mengonfirmasi bahwa karhutla di lokasi ini telah berlangsung aktif selama lebih dari satu pekan.
Pihak HAkA mengingatkan bahwa potensi perluasan area kebakaran di Aceh Barat masih sangat tinggi apabila upaya pemadaman dan lokalisasi api tidak segera diintensifkan. Kondisi lahan gambut yang mulai mengering, tiupan angin kencang, serta melimpahnya serasah kering di lantai hutan menjadi faktor pemicu yang dapat mempercepat laju perambatan api ke area perkebunan warga sekitar.[]










