SEANTERONEWS.com – Rivalitas antara Amerika Serikat (AS) dan China kini telah bertransformasi menjadi pertarungan pengaruh strategis yang lebih kompleks. Dinamika ini dinilai tidak lagi sebatas perang dagang, melainkan sudah masuk ke ranah keamanan global yang berpotensi menyeret kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menyoroti bahwa ketegangan antara kedua negara adidaya tersebut kini semakin sulit diprediksi. Menurutnya, intensitas gesekan di Laut China Selatan yang terjadi hampir setiap hari menjadi indikator utama bahwa persaingan keduanya telah berada di titik yang lebih terbuka dan berbahaya.
Amir menggarisbawahi pentingnya melihat sejarah sebagai cermin. Ia mengingatkan bahwa Amerika Serikat sangat berhati-hati untuk tidak mengulangi kesalahan fatal di masa lalu, seperti tragedi Pearl Harbor yang dipicu oleh kelemahan sistem internal.
Dalam konteks domestik AS saat ini, Amir menyoroti insiden penembakan terhadap Donald Trump sebagai sinyal adanya kerentanan serius di internal politik Amerika. Ia bahkan tidak menepis kemungkinan adanya keterlibatan pihak-pihak di lingkaran dekat Trump dalam insiden tersebut.
“Dinamika global semakin sulit diprediksi. Ancaman kini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Hal ini menambah kompleksitas stabilitas dunia,” ujar Amir, Selasa (19/5/2026).
Hubungan antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai tidak sehangat dulu pun menjadi sorotan. Penurunan kedekatan ini memicu eskalasi di Laut China Selatan yang kini semakin sulit dibendung.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar bagi Indonesia: apakah posisi strategis Indonesia akan dijadikan arena pertempuran atau sekadar wilayah pengamanan aset bagi kedua negara besar tersebut?
Meskipun demikian, Amir meyakini bahwa baik AS maupun China kemungkinan besar tidak ingin menjadikan Indonesia sebagai medan perang terbuka. Secara ekonomi maupun geopolitik, Indonesia memiliki posisi tawar yang terlalu vital bagi kedua pihak.
“Indonesia adalah titik strategis. Menjadikannya medan perang terbuka justru akan merugikan kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri,” pungkasnya.









