SEANTERONEWS.com – Perayaan Hari Eropa atau Europe Day 2026 resmi digelar di Hotel Ayana Midplaza Jakarta pada Kamis (7/5/2026). Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni memperingati 38 tahun kehadiran diplomatik Uni Eropa di Jakarta, tetapi juga menjadi panggung penting untuk menegaskan posisi blok tersebut terhadap perdamaian global dan kemitraan strategis dengan Pemerintah Indonesia.
Acara yang dihadiri oleh para diplomat, pejabat tinggi negara, dan tokoh internasional ini menyoroti dua isu utama: krisis kemanusiaan di Gaza serta percepatan kerja sama ekonomi melalui Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Dukungan Tak Terputus untuk Palestina
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi, dalam pidatonya memberikan perhatian khusus pada eskalasi konflik di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Uni Eropa tetap menjadi donor kemanusiaan terbesar bagi Palestina dengan alokasi bantuan mencapai lebih dari 1,44 miliar euro hingga Mei 2026.
“Kami ingin berbuat lebih banyak untuk Gaza. Uni Eropa secara konsisten mendesak akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan serta memastikan distribusinya berkelanjutan,” ujar Chaibi.
Selain bantuan finansial untuk infrastruktur energi dan air, Uni Eropa terus mendorong solusi diplomatik berupa “Solusi Dua Negara” dan menyerukan gencatan senjata segera guna melindungi warga sipil di Gaza maupun Lebanon. Menurut Chaibi, krisis global saat ini membuktikan bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis, melainkan harus diperjuangkan setiap hari.
Di tingkat bilateral, hubungan Indonesia dan Uni Eropa diprediksi akan memasuki babak baru yang lebih cerah. Salah satu poin krusial yang diungkapkan adalah kemajuan signifikan dalam negosiasi CEPA yang sempat menemui jalan buntu selama satu dekade.
Denis Chaibi mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang berhasil mendorong titik temu dalam pertemuan tingkat tinggi di Brussel pada 2025 lalu. Implementasi perjanjian ekonomi komprehensif ini ditargetkan mulai berjalan pada awal tahun depan.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, yang hadir sebagai tamu kehormatan (Guest of Honour), menyambut baik optimisme tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan kedua pihak kini berdiri di atas landasan kesetaraan dan saling menghormati.
“Kemitraan ini bukan sekadar angka perdagangan. Ini adalah tentang penciptaan lapangan kerja, penguatan struktur industri, serta transfer teknologi dan pengetahuan,” tegas Pratikno.
Diplomasi Budaya dan Investasi Berkelanjutan
Selain aspek politik dan ekonomi, perayaan tahun ini juga menonjolkan kekuatan diplomasi budaya (soft power). Uni Eropa menjadwalkan pertunjukan musik tradisional Irlandia bertajuk “A Taste of Irish Trad” di Taman Ismail Marzuki pada 16 Mei mendatang sebagai upaya mempererat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact).
Dari sisi finansial, Kepala Kantor Regional European Investment Bank (EIB), Sunita Lukkhoo-Tassone, menekankan bahwa investasi Uni Eropa di Indonesia dan kawasan Pasifik mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan. EIB fokus mendukung proyek konektivitas digital dan pemberdayaan usaha kecil yang tangguh terhadap perubahan zaman.
Perayaan Europe Day 2026 ini pun ditutup dengan optimisme tinggi menyambut 50 tahun hubungan dialog Asia-Uni Eropa pada 2027 mendatang, mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra kunci Eropa di kawasan Tenggara.[]










