SUBULUSSALAM – Upaya pemerintah dalam meratakan akses pendidikan berkualitas di daerah terus dipacu. Hingga Kamis (7/5/2026), realisasi pengerjaan proyek strategis Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Kota Subulussalam, Aceh, telah sukses menyentuh angka progres 30,83 persen.
Sebagai pihak pelaksana konstruksi, PT Waskita Karya (Persero) Tbk berkomitmen penuh mengakselerasi pengerjaan di lapangan. Manuver percepatan ini merupakan respons langsung atas instruksi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yang mematok target agar kompleks pendidikan terpadu tersebut bisa segera dihuni siswa pada momentum tahun ajaran baru di bulan Juli mendatang.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, merinci bahwa mega proyek ini menempati area seluas 60.519 meter persegi (sekitar 6 hektare). Nantinya, kawasan ini akan menjelma menjadi pusat pendidikan komprehensif yang dilengkapi dengan fasilitas gedung SD, SMP, SMA, asrama penginapan, hingga infrastruktur olahraga yang memadai.
“Saat ini, kami telah mengerahkan hampir 1.000 pekerja yang beroperasi dengan skema sif 24 jam nonstop di lokasi proyek Subulussalam. Demi mengejar tenggat waktu penyelesaian, kami berencana memobilisasi lebih banyak tenaga kerja hingga mencapai 1.200 bahkan 1.500 orang pada fase puncak konstruksi,” terang Ermy dalam pernyataan resminya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Rekor Keselamatan di Tengah Strategi Percepatan
Meski pengerjaan dikebut dengan ritme tinggi, Waskita memastikan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak dikesampingkan. Ermy mengungkapkan bahwa proyek ini telah menorehkan prestasi berupa 412.156 jam kerja aman tanpa catatan kecelakaan (zero accident).
“Setiap fase pembangunan kami pantau secara ketat. Ini adalah bentuk dedikasi Waskita dalam mengawal Program Prioritas Pemerintah yang bermuara pada pengentasan kemiskinan lewat pemerataan fasilitas pendidikan,” tegasnya.
Di lapangan, jalannya proyek tak lepas dari rintangan. Tim konstruksi harus berjibaku menghadapi anomali cuaca berupa curah hujan tinggi, jalur akses yang menantang, hingga fluktuasi rantai pasok material.
Untuk menetralisir hambatan tersebut, perusahaan pelat merah ini menerapkan rekayasa teknis yang taktis. Beberapa strategi yang dieksekusi meliputi modifikasi struktur pelat lantai, penggunaan fondasi tapak (foot plate), penambahan unit alat berat, dan penyediaan batching plant ekstra untuk menjamin kelancaran suplai beton. Pendistribusian material juga disiasati dengan menggunakan kendaraan angkut berdimensi lebih ringkas agar mudah menembus akses lokasi.
Sebagai nilai tambah, kompleks Sekolah Rakyat Subulussalam ini didesain tidak hanya fungsional, tetapi juga modern. Bangunan dirancang mengusung prinsip arsitektur ramah lingkungan (green building). Konsep ini menjamin tingkat efisiensi energi yang tinggi, mengadaptasi kearifan lokal Aceh, menciptakan sirkulasi yang nyaman, sekaligus tangguh dalam memitigasi risiko bencana alam.










