BREAKING

INTERNASIONAL

Menlu Iran ke Beijing: Misi Selat Hormuz & KTT Trump-Xi

Menjelang KTT Trump-Xi, Menlu Iran Abbas Araghchi tiba di Beijing untuk bahas pembukaan kembali Selat Hormuz dan dukungan China di PBB. Simak detailnya.

SEANTERONEWS.com – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendarat di Beijing pada Rabu (6/5/2026) untuk mengadakan pembicaraan krusial dengan Menlu China, Wang Yi. Pertemuan ini berlangsung di tengah tensi tinggi di Selat Hormuz dan hanya sepekan sebelum kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Kunjungan Araghchi ini merupakan perjalanan pertamanya ke Beijing sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Sebagai sekutu dekat, China memegang peran sentral dalam menyeimbangkan stabilitas di Timur Tengah sekaligus menjaga kepentingan ekonomi global yang terguncang akibat krisis jalur pelayaran.

Laporan dari Al Jazeera menyebutkan ada dua poin utama dalam agenda Araghchi: mempertahankan gencatan senjata yang telah disepakati pada April lalu dan mencari solusi pembukaan kembali Selat Hormuz.

Sejak konflik dimulai, Iran secara efektif menutup selat tersebut—jalur vital bagi pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan ini memicu lonjakan harga bahan bakar dan pupuk secara global. Di sisi lain, AS membalas dengan blokade pelabuhan Iran guna menekan Teheran dalam negosiasi perdamaian.

China berada dalam posisi dilematis. Beijing sangat kritis terhadap blokade laut AS yang dianggap berbahaya, namun di saat yang sama, mereka mulai kehilangan kesabaran terhadap keputusan Iran yang terus menutup jalur perdagangan internasional tersebut.

Kedatangan Araghchi juga bertujuan untuk memastikan posisi China menjelang pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump pada 14-15 Mei mendatang. Teheran membutuhkan kepastian bahwa Beijing tidak akan memberikan konsesi kepada Washington yang dapat merugikan posisi Iran, terutama terkait ancaman sanksi tambahan di Dewan Keamanan PBB.

“Iran membutuhkan dukungan China di PBB untuk memblokir tindakan apa pun yang bertujuan menjatuhkan sanksi baru akibat penutupan selat,” lapor koresponden di Beijing. Sebaliknya, China menginginkan jaminan bahwa Iran tidak akan mengambil tindakan eskalatif yang dapat mengganggu momentum diplomatik menjelang pertemuan tingkat tinggi tersebut.

Di saat pertemuan Beijing berlangsung, Presiden Donald Trump memberikan kejutan melalui platform Truth Social dengan mengumumkan penghentian sementara operasi militer AS untuk mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz.

Langkah ini diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan yang bertindak sebagai mediator perdamaian serta klaim Trump bahwa telah terjadi “kemajuan besar” menuju kesepakatan akhir dengan perwakilan Iran.

Meskipun demikian, situasi tetap rapuh. Beberapa hari sebelumnya, terjadi gesekan militer di mana AS mengklaim telah menenggelamkan kapal Iran, sementara Uni Emirat Arab melaporkan serangan drone ke kilang minyak mereka. Teheran secara tegas membantah keterlibatan dalam serangan ke wilayah UEA.

Kini, mata dunia tertuju pada Beijing. Hasil pembicaraan Araghchi dan Wang Yi diprediksi akan menjadi penentu apakah Selat Hormuz kembali dibuka atau dunia harus bersiap menghadapi babak baru ketidakpastian ekonomi.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts