BREAKING

INTERNASIONAL

Jejak Sejarah Nusantara yang Masih Eksis di Singapura

Menelusuri jejak leluhur Nusantara di Singapura, mulai dari Kampong Java tempat lahirnya Lee Kuan Yew hingga kawasan strategis Bencoolen Street.

SEANTERONEWS.com – Hubungan antara Indonesia dan Singapura ternyata memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam dari sekadar relasi diplomatik pasca-kemerdekaan. Sejak abad ke-19, kedua wilayah ini telah saling terkait erat melalui arus migrasi perantau asal Jawa hingga Sulawesi yang mencari peluang ekonomi di Tanah Temasek.

Kehadiran para perantau ini tidak hanya membantu menggerakkan roda perekonomian lokal, tetapi juga membentuk keberagaman etnis yang menjadi fondasi Singapura sebagai kawasan dagang dunia. Hingga hari ini, jejak-jejak peninggalan leluhur Nusantara tersebut masih dapat ditemui dalam bentuk nama jalan dan kawasan ikonik.

Berikut adalah beberapa jejak sejarah Nusantara di Singapura sebagaimana disadur dari KBRI Singapura dan berbagai sumber literatur:

Kampong Java: Saksi Sejarah Kelahiran Tokoh Besar

Terletak di Distrik Rochor, Kampong Java dahulunya merupakan pusat pemukiman perantau asal Jawa. Bermula dari hanya sekitar 30 orang pada abad ke-19, jumlah komunitas “wong Jowo” membengkak hingga lebih dari delapan ribu jiwa pada akhir abad tersebut.

Satu fakta unik yang jarang diketahui adalah Perdana Menteri pertama Singapura, Lee Kuan Yew, lahir di kawasan ini. Ayahnya merupakan perantau asal Semarang yang pindah untuk mengadu nasib. Meski secara fisik kampung tersebut sudah tidak ada, pemerintah setempat mengabadikannya menjadi Kampong Java Road yang menghubungkan Bukit Timah Road ke Newton Circus.

Bencoolen Street: Kenangan atas Bengkulu

Nama jalan ini merujuk pada “Bengkulu”. Sejarahnya bermula dari Sir Thomas Stamford Raffles yang membawa sejumlah orang Melayu Bengkulu ke Singapura setelah penandatanganan Traktat London. Melalui perjanjian tersebut, Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda sebagai pertukaran dengan Singapura.

Kini, Bencoolen Street telah bertransformasi menjadi kawasan strategis yang dikelilingi oleh landmark bersejarah seperti Museum Nasional Singapura dan Galeri Nasional Singapura.

Bugis Street: Pusat Perdagangan Sejak Dahulu

Masyarakat Bugis diperkirakan tiba di Singapura pada tahun 1819 dan membangun pemukiman di sekitar Telok Ayer serta Kampong Glam. Sebagai pelaut ulung, mereka memiliki andil besar dalam membangun jaringan perdagangan internasional Singapura. Saat ini, nama mereka tetap abadi melalui kawasan perbelanjaan populer seperti Bugis Street, Bugis Village, hingga Bugis Junction.

Banda Street: Kaitan dengan Maluku

Berlokasi di kawasan Chinatown, nama Banda Street kemungkinan besar diambil dari Kepulauan Banda di Maluku. Dahulu, jalan satu arah ini dikenal dengan keramaian pedagang kaki limanya yang menjajakan makanan hingga malam hari bagi para pelayat di Sago Lane.

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts