SEANTERONEWS.com – Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memberikan respons cepat menyusul pengumuman Amerika Serikat (AS) terkait rencana penarikan pasukannya dari Jerman. Langkah ini dipandang sebagai titik balik penting bagi arsitektur keamanan di Benua Biru pada tahun 2026.
Juru bicara NATO, Allison Hart, menyatakan bahwa pihaknya tengah menjalin komunikasi intensif dengan Washington untuk mendalami detail keputusan terkait postur kekuatan militer tersebut.
NATO menilai keputusan Washington ini sebagai sinyal kuat bagi negara-negara Eropa agar tidak lagi menggantungkan keamanan kolektif sepenuhnya kepada militer Amerika Serikat. Hart menekankan pentingnya peningkatan investasi di sektor pertahanan agar Eropa memiliki kemampuan untuk mengambil tanggung jawab lebih besar.
Visi NATO: Tetap optimis terhadap kemampuan pertahanan kolektif dengan visi “Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat”.
Kemandirian Militer: Negara-negara Eropa didorong untuk mempercepat proses modernisasi militer secara mandiri.
Keputusan Pentagon untuk menarik sekitar 5.000 personel militer dari Jerman disebut berkaitan erat dengan ketegangan politik antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Perselisihan ini dipicu oleh kritik tajam Merz terhadap strategi perang AS di Iran yang dianggap tidak memiliki “strategi keluar” (exit strategy) yang jelas. Merz bahkan sempat menyebut Washington tengah “dipermalukan” oleh rezim Teheran dalam proses perundingan.
Menanggapi kritik tersebut, Presiden Trump menyatakan tengah mengevaluasi kehadiran militer AS di Jerman. Situasi ini mencerminkan adanya keretakan internal dalam tubuh NATO, khususnya terkait perbedaan kebijakan terhadap Iran.
Penarikan pasukan ini menandai babak baru dalam hubungan transatlantik. Krisis diplomatik ini secara tidak langsung menekan negara-negara anggota NATO di Eropa untuk segera membenahi sistem pertahanan mereka tanpa bergantung pada kehadiran fisik pasukan Amerika.[]










