Revolusi transportasi rel di Asia kini memasuki babak baru. Di tengah dominasi raksasa teknologi Tiongkok dan Jepang, Indonesia berhasil memancangkan taringnya melalui Whoosh. Kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini tidak hanya memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung secara drastis, tetapi juga sukses menembus jajaran elit kereta tercepat di benua Asia pada tahun 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Railway Gazette yang dirangkum oleh Seasiastats, Whoosh menempati peringkat kelima dalam daftar kereta dengan kecepatan operasional tertinggi di Asia.
Daftar 10 Kereta Tercepat di Asia (2026)
Kecepatan kereta diukur berdasarkan kemampuan maksimal operasional dalam kilometer per jam (km/jam). Berikut adalah peta persaingan teknologi rel di Asia saat ini:
- Shanghai Maglev – 460 km/jam (Tiongkok)
- CR450 (Prototype) – 400 km/jam (Tiongkok)
- CR400AF Fuxing – 350 km/jam (Tiongkok)
- CRH380A Hexie – 350/jam (Tiongkok)
- Whoosh – 350 km/jam (Indonesia/KCIC)
- E5 Shinkansen – 320 km/jam (Jepang)
- E2/N700 Shinkansen – 300-320 km/jam (Jepang)
- KTX – 305 km/jam (Korea Selatan)
- THSR – 300 km/jam (Taiwan)
- Vandhe Bharat – 180 km/jam (India)
Efisiensi Waktu: Jakarta-Bandung dalam 30 Menit
Whoosh, yang merupakan onomatope dari suara benda melaju kencang, juga memiliki kepanjangan filosofis: Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. Kereta yang dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) ini melayani rute sepanjang 142 km.
Jika perjalanan darat normal menggunakan mobil memakan waktu 2 hingga 3 jam, Whoosh mampu menyelesaikannya hanya dalam kurun waktu 30 hingga 45 menit. Kehadiran Whoosh menjadi solusi strategis bagi kaum komuter dan profesional dengan mobilitas tinggi di koridor ekonomi Jawa Barat dan Jakarta.
Dinamika Kerja Sama dan Tantangan Finansial
Proyek yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Oktober 2023 ini merupakan buah kolaborasi “mesra” antara Indonesia dan Tiongkok. Struktur kepemilikan saham dikelola oleh konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60% dan Beijing Yawan HSR Co Ltd sebesar 40%. Skema pendanaan mayoritas berasal dari pinjaman China Development Bank (75%) dengan model Business-to-Business (B2B).
Namun, di balik kemegahannya, Whoosh menghadapi tantangan ekonomi yang cukup pelik di tahun 2025 dan 2026. Muncul indikasi pembengkakan biaya (cost overrun) dan ketimpangan antara pendapatan operasional dengan beban utang. Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak menggunakan APBN dalam pelunasan utang.
Kabar terbaru pada pertengahan Maret 2026 menyebutkan bahwa skema restrukturisasi utang telah diputuskan. Kepastian mengenai keberlanjutan finansial proyek strategis nasional ini dijadwalkan akan segera diumumkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto.[]










