BREAKING

NASIONAL

Teror Air Keras Andrie Yunus: Alarm Demokrasi dan Nyala Solidaritas

Aktivis HAM Andrie Yunus disiram air keras di Jakarta. Simak kronologi lengkap, daftar organisasi yang bersolidaritas, dan tuntutan pengusutan tuntas.

Gelombang kemarahan sekaligus solidaritas nasional menyelimuti ruang publik Indonesia pasca-serangan brutal terhadap Andrie Yunus, advokat publik sekaligus aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dari KontraS. Alih-alih menciptakan ketakutan, aksi penyiraman air keras yang menimpa Andrie justru memicu konsolidasi besar-besaran dari ratusan organisasi masyarakat sipil dan tokoh publik yang menuntut pengusutan tuntas atas teror tersebut.

Peristiwa nahas ini terjadi pada Kamis malam (12/3/2026) sekitar pukul 23.37 WIB di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Berdasarkan kronologi resmi dari KontraS, Andrie baru saja menyelesaikan rekaman siniar (podcast) bertema kritis mengenai “Remiliterisme dan Judicial Review” di kantor YLBHI. Saat berkendara pulang, dua orang tak dikenal menyiramkan air keras yang mengenai bagian kanan tubuh dan area mata Andrie, hingga korban terjatuh dari sepeda motornya.

Jejak Vokal Sang Pembela HAM

Andrie Yunus dikenal sebagai sosok yang sangat vokal dalam mengkritisi kebijakan pertahanan, terutama terkait Revisi UU TNI (RUU TNI). Namanya sempat menjadi sorotan publik pada Maret 2025 ketika ia melakukan aksi nekat menerobos rapat tertutup pembahasan RUU TNI di sebuah hotel sebagai protes atas minimnya transparansi dan partisipasi publik.

Banyak pihak menduga serangan ini berkaitan erat dengan aktivitas advokasi yang dijalankannya. “Serangan terhadap Andrie adalah serangan terhadap demokrasi dan suara warga sipil,” tegas musisi Baskara Putra (Hindia) dalam pernyataan solidaritasnya.

Solidaritas Tanpa Gentar

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengutuk keras tindakan pengecut tersebut. Ia mengingatkan bahwa sejarah panjang KontraS telah diwarnai dengan berbagai intimidasi sejak 1998, mulai dari pengeboman kantor hingga pembunuhan Munir.

“KontraS tidak akan pernah selangkah pun mundur. Kami sudah terbiasa menerima teror. Serangan ini tidak akan membungkam langkah kami untuk melawan penindasan,” ujar Usman dengan nada tegas.

Hingga Jumat sore (13/3/2026), tercatat sedikitnya 175 organisasi masyarakat sipil telah menyatakan sikap bersama untuk mengawal kasus ini. Dukungan tidak hanya datang dari kalangan aktivis, tetapi juga dari masyarakat akar rumput. Di Yogyakarta, kelompok Suara Ibu Indonesia menggelar aksi simpatik di Bundaran UGM pada Sabtu (14/3/2026) dengan membawa bunga dan panci sebagai simbol doa dan dukungan bagi pemulihan Andrie.

Mendesak Perlindungan Pembela HAM

Kasus ini kembali membuka diskusi mengenai mendesaknya payung hukum perlindungan bagi pembela HAM (human rights defenders) di Indonesia. Media sosial kini dipenuhi dengan desakan agar kepolisian segera menangkap aktor intelektual di balik penyerangan ini.

Dukungan luas dari tokoh publik seperti Digo DZ hingga masyarakat umum menunjukkan bahwa teror terhadap satu orang pembela HAM justru akan melahirkan ribuan suara baru yang menolak pembungkaman di negara demokrasi ini. Saat ini, Andrie masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, terutama untuk memulihkan kondisi penglihatannya yang terdampak cairan kimia tersebut.

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts