Lonjakan volume kendaraan pada musim mudik Lebaran 2026 diprediksi akan mencapai puncaknya dengan mobil pribadi sebagai moda transportasi favorit. Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengungkapkan bahwa sekitar 76,24 juta orang atau setara 52,98 persen pemudik memilih kendaraan pribadi untuk pulang ke kampung halaman.
Dari jumlah tersebut, mayoritas pemudik (66,40 persen) mengandalkan jaringan jalan tol sebagai jalur utama. Fenomena ini menempatkan jalan tol dalam risiko kemacetan ekstrem, sehingga diperlukan strategi pengelolaan arus yang lebih komprehensif daripada sekadar penambahan ruas jalan baru.
Jalur Arteri Sebagai Solusi Alternatif
Djoko menekankan bahwa kunci utama mengurai kepadatan bukan lagi menambah panjang jalan tol, melainkan membenahi jalan arteri. Jalur Pantura dan Jalur Pansel sebenarnya menawarkan durasi perjalanan yang lebih terukur saat tol mengalami stagnasi. Namun, minimnya rambu, penerangan jalan, serta gangguan pasar tumpah sering kali membuat pemudik ragu memilih jalur non-tol.
“Pemudik perlu diberikan pilihan jalur alternatif yang setara dari sisi keamanan dan kenyamanan. Kehadiran Tol Cisumdawu tahun ini memang memberi angin segar dalam memangkas beban Tol Cipali, namun keterbatasan konektivitas utara-selatan tetap membuat jalur arteri menjadi tumpuan yang harus dibenahi,” jelas Djoko kepada Good News From Indonesia, Senin (16/3/2026).
Manajemen Rest Area dan Fasilitas Darurat
Salah satu titik kritis penyumbat arus lalu lintas di jalan tol adalah rest area. Kapasitas yang dirancang untuk kondisi normal terbukti kewalahan menampung lonjakan pemudik saat Lebaran. Djoko menyarankan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk melakukan langkah masif, terutama penambahan toilet portabel dengan prioritas bagi perempuan guna meminimalisir antrean yang mengular hingga bahu jalan.
Selain itu, ia mendorong adanya sinergi antara BUJT dan Pemerintah Daerah untuk menyediakan tempat istirahat sementara di luar gerbang tol. “Masyarakat harus diingatkan bahwa bahu jalan adalah jalur steril darurat, bukan tempat istirahat. Contoh sukses di Tol Salatiga, di mana fasilitas umum tersedia dekat gerbang tol, harus direplikasi dan diintegrasikan ke aplikasi seperti Travoy secara real-time,” tambahnya.
Kesiapan Ekosistem Mobil Listrik
Seiring meningkatnya tren penggunaan kendaraan listrik (EV) di Indonesia, penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di titik strategis ruas tol menjadi kewajiban baru bagi pengelola.
Untuk menjaga sirkulasi di dalam rest area, petugas diharapkan tegas memberlakukan batas waktu istirahat maksimal 30 menit saat kondisi padat. Aspek keamanan juga diperkuat melalui peningkatan patroli rutin dan kesiagaan layanan mobil derek gratis hingga pintu keluar terdekat untuk memastikan kelancaran arus mudik tahun ini.










