Mantan perwira intelijen Marinir Amerika Serikat (AS) dan inspektur senjata PBB, Scott Ritter, memberikan penilaian provokatif terkait eskalasi konflik antara poros AS-Israel melawan Iran. Dalam wawancara terbaru di siniar Andrew Napolitano, Ritter menegaskan bahwa sejak hari pertama serangan besar-besaran diluncurkan, Washington dan Tel Aviv sebenarnya telah berada di posisi yang kalah secara strategis.
Ritter mengkritik tajam keputusan Presiden Donald Trump yang melancarkan operasi militer tanpa legitimasi Kongres. Ia menilai kebijakan tersebut lebih didorong oleh pengaruh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, daripada hasil analisis intelijen yang kredibel.
Kegagalan Analisis dan Ilusi Rezim
Menurut Ritter, Trump mengabaikan peringatan para jenderal militernya sendiri mengenai kekuatan riil Teheran. Trump diduga berpegang pada premis keliru bahwa pembunuhan massal terhadap pemimpin tertinggi, presiden, hingga ilmuwan nuklir Iran akan memicu euforia rakyat untuk melakukan kudeta.
Namun, kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Pasca-terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dunia tidak melihat perayaan di jalan-jalan Iran. Sebaliknya, jutaan rakyat di berbagai negara justru bersatu dalam duka dan komitmen perlawanan yang lebih agresif.
“Trump tidak memahami sejarah 5.000 tahun peradaban Iran. Ia gagal mengerti bahwa ia sedang berhadapan dengan people of faith bangsa beriman yang memandang kematian dalam perjuangan sebagai sebuah kemuliaan,” ujar Ritter.
Kekuatan Iman dan Simbolisme Global
Ritter menyoroti kebodohan strategis AS yang tidak memahami posisi Ali Khamenei sebagai pemimpin spiritual Syiah global. Membunuhnya, menurut Ritter, setara dengan membunuh figur sentral seperti Paus bagi umat Katolik. Tindakan ini justru melahirkan solidaritas lintas negara yang membahayakan posisi AS di Timur Tengah.
Narasi “Syahid” yang dianut rakyat Iran—di mana kematian justru dicita-citakan dalam perlawanan—menjadi faktor yang tidak bisa diukur oleh kalkulasi militer konvensional. Fenomena ini mengingatkan pada militansi pejuang kemerdekaan di berbagai belahan dunia, termasuk milisi Hizbullah di Indonesia era 1945, yang memiliki semboyan “Merdeka atau Mati”.
Taktik Pecah Belah: Belajar dari Snouck Hurgronje
Melihat kebuntuan dalam menghadapi militansi tersebut, Ritter dan para analis menduga AS serta Israel akan beralih ke strategi klasik: Devide et Impera. Upaya memecah belah umat melalui isu sektarian Sunni-Syiah diprediksi akan diperkuat, terutama dengan melibatkan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Strategi ini serupa dengan taktik kolonial Belanda saat menghadapi Perang Aceh yang berlarut-larut. Kala itu, Belanda menggunakan orientalis Snouck Hurgronje untuk menyusup dan memecah struktur sosial masyarakat dari dalam. Kini, pola serupa tampaknya tengah dipersiapkan untuk meredam kekuatan Iran yang tidak bisa ditaklukkan hanya dengan mesin perang.











