BREAKING

KOMUNITAS

Lemi Ghariokwu: Seniman Jenius di Balik Visual Fela Kuti

Bicara tentang Fela Kuti bukan hanya soal musik Afrobeat yang menghentak, tetapi juga soal pesan visual yang provokatif. Di balik ikonografi revolusioner tersebut, ada satu nama yang tak terpisahkan: Lemi Ghariokwu.

LONDON / LAGOS – Bicara tentang Fela Kuti bukan hanya soal musik Afrobeat yang menghentak, tetapi juga soal pesan visual yang provokatif. Di balik ikonografi revolusioner tersebut, ada satu nama yang tak terpisahkan: Lemi Ghariokwu. Sebagai seniman di balik 26 sampul album legendaris Fela Kuti, Ghariokwu bukan sekadar ilustrator, melainkan arsitek visual dari gerakan perlawanan Nigeria.

Melansir laporan eksklusif The Guardian, Selasa (6/1/2026), Ghariokwu mengenang kembali perjalanan kreatifnya yang dimulai sejak usia 18 tahun, ketika ia pertama kali bertemu sang legenda musik tersebut pada tahun 1974.

Sampul album karya Ghariokwu seperti Zombie, No Agreement, hingga Sorrow Tears and Blood dikenal karena keberaniannya mengkritik korupsi, kebrutalan polisi, dan ketidakadilan sosial.

Menggabungkan elemen komik, komentar sosial, dan warna-warna yang berani, karyanya berhasil menangkap esensi kemarahan dan harapan rakyat Nigeria kala itu.

Fela Kuti memberikan kebebasan penuh kepada Ghariokwu untuk menerjemahkan lirik-liriknya yang tajam menjadi sebuah karya seni yang bisa “berbicara” sebelum musiknya diputar.

Kini, di tahun 2026, warisan visual Lemi Ghariokwu tidak lagi terbatas pada rak toko piringan hitam. Karya-karyanya telah diakui sebagai artefak budaya penting:

Karya Ghariokwu kini dipajang di museum-museum bergengsi dunia, termasuk MoMA di New York dan Tate Modern di London.

Seniman muda Afrika saat ini memandang Ghariokwu sebagai pionir yang membuktikan bahwa desain grafis bisa menjadi alat perubahan sosial yang kuat.

Visualnya tetap relevan dalam gerakan protes kontemporer di seluruh dunia, membuktikan bahwa seni protes tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

Meskipun Fela Kuti telah tiada, Ghariokwu terus berkarya dan menyebarkan filosofi Afrobeat melalui seni visualnya. Ia menekankan bahwa seni harus memiliki tujuan dan kejujuran. “Saya tidak hanya menggambar sampul album; saya mendokumentasikan sejarah perjuangan bangsa kami,” tuturnya dalam wawancara tersebut.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts