BREAKING

KOMUNITAS

Sunyinya Jalur Seulawah Tergerus Hadirnya Tol Aceh

Kehadiran Tol Lintas Aceh membawa efisiensi waktu, namun menyisakan nestapa ekonomi dan keheningan di jalur legendaris pegunungan Seulawah-Saree.

BANDA ACEH – Bagi masyarakat pesisir timur Aceh yang terbentang dari Langsa, Bireuen, hingga Pidie, lintasan pegunungan Seulawah di kawasan Saree tidak pernah dimaknai sekadar sebagai lapisan aspal penghubung antar-kota. Selama puluhan tahun, rute ini adalah urat nadi yang memompa denyut ekonomi, sosial, dan memori kolektif masyarakat yang bepergian menuju Banda Aceh atau sebaliknya.

Di masa jayanya, jalur ini tak pernah tertidur. Dari pekat subuh hingga larut malam, iring-iringan kendaraan membelah kabut pegunungan. Di sepanjang bahu jalan, gerai-gerai kecil dan warung kopi berdiri tegak, menawarkan tempat bersandar bagi fisik yang lelah. Aroma kopi saring berpadu dengan gurihnya emping melinjo dan keripik pisang, menjadi instrumen penyambut tamu yang tak pernah gagal menghangatkan suasana.

Menjelang hari raya, rute ini bermetamorfosis menjadi lautan cahaya. Sorot lampu kendaraan yang merayap naik ke puncak gunung tampak bak gugusan bintang yang turun ke bumi. Di sinilah ruang-ruang pertemuan sosial terjadi; sapaan hangat antar-pelintas dan gelak tawa di kedai persinggahan menjadi pemandangan lumrah.

Jalur ini juga merekam jejak sejarah yang mendalam. Bagi barisan mahasiswa perantauan, jalan ini adalah jembatan penghubung antara kampung halaman dan cita-cita, di mana bekal dan asa dibagi di bawah rintik hujan saat menepi. Bahkan di masa konflik yang kelam, rute ini adalah saksi bisu keberanian warga yang merayap pelan menembus ketakutan, merapal doa di setiap tanjakan demi bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

Namun, roda zaman berputar cepat. Diresmikannya jalan Tol Lintas Aceh secara dramatis merombak peta mobilitas masyarakat. Jarak tempuh Bireuen–Banda Aceh yang dulunya memakan waktu empat hingga lima jam, kini bisa dilibas hanya dalam hitungan dua jam.

Efisiensi waktu memang tercipta, namun ada harga mahal yang harus dibayar. Kendaraan masa kini melesat bak kilat di balik beton bebas hambatan; tanpa hambatan, tanpa kelokan tajam, namun juga tanpa interaksi. Para pelintas tiba di tujuan dengan cepat, tetapi mereka kehilangan kemewahan untuk menyapa petani di lereng bukit, merasakan belaian angin hutan pinus, atau sekadar berbagi rezeki dengan pedagang lokal.

Dampaknya menghantam keras denyut nadi Saree. Lintasan legendaris itu kini memeluk sepi. Gerai-gerai kuliner dan pusat oleh-oleh yang dibangun dengan modal besar dan harapan tinggi, kini hanya menyisakan tatapan kosong para pedagang ke arah jalanan yang lengang. Sumber penghidupan yang dirawat puluhan tahun itu lenyap tergilas kemajuan infrastruktur, nyaris tanpa ada langkah mitigasi atau pendampingan yang memadai bagi pelaku UMKM setempat.

Saat ini, wajah jalur lama Seulawah hanya diisi oleh mereka yang tak memiliki privilese mengakses jalan tol. Para pengendara roda dua, petani yang mengangkut hasil bumi, serta masyarakat lokal menjadi penjaga terakhir rute ini. Mereka tetap merayap pelan membelah keheningan malam, melewati deretan toko yang gulung tikar, membawa nuansa nostalgia ke era 60-an.

Kendati demikian, dalam keheningan yang menyelimuti jalur tersebut, tersimpan sebuah filosofi perjalanan yang tak bisa dibeli dengan kecepatan. Membelah aspal Seulawah bukan lagi sekadar urusan tiba di tujuan akhir, melainkan tentang meresapi pengalaman empiris di sepanjang jalan.

Mereka yang memacu kendaraan di jalan tol mungkin menghemat waktu, tetapi mereka pulang tanpa membawa kepingan cerita. Mereka luput merasakan menusuknya hawa dingin puncak Seulawah, atau kehangatan humanisme di warung kopi pinggir jalan.

Jalur Seulawah Saree mungkin telah ditinggalkan oleh peradaban yang serba instan, tetapi ia akan selalu bertahta di ingatan mereka yang tumbuh bersamanya. Infrastruktur boleh saja mengarahkan kendaraan melesat di atas sana, namun di kelokan aspal tua inilah, ruh dan nyawa Aceh yang sesungguhnya tetap merayap pelan sepi, setia, dan tak akan pernah hilang dari sanubari.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts