SEANTERONEWS.com – Spekulasi mengenai adanya keterkaitan antara jaringan teror di Filipina dengan pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, akhirnya mendapat jawaban tegas. Pemerintah Filipina melalui Penasihat Keamanan Nasional, Eduardo Año, secara resmi menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti kuat yang mendukung klaim bahwa pelaku menjalani “pelatihan teroris” selama kunjungan mereka ke negara tersebut.
Hanya Menetap di Hotel dan Makan Cepat Saji Berdasarkan hasil investigasi kepolisian Filipina terhadap GV Hotel di Kota Davao, tempat Sajid Akram (50) dan putranya Naveed Akram (24) menginap, terungkap fakta yang mengejutkan. Selama 28 hari (1-28 November 2024), ayah dan anak ini dilaporkan hampir tidak pernah meninggalkan kamar hotel mereka.
Staf hotel memberikan kesaksian bahwa keduanya sangat tertutup, jarang menerima tamu, dan hanya keluar hotel selama sekitar satu jam setiap harinya. Menariknya, petugas kebersihan hanya menemukan sampah makanan dari gerai fast food di tempat sampah kamar mereka, tanpa adanya dokumen atau aktivitas mencurigakan lainnya.
Bantahan Tegas dari Istana Malacañang Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr. melalui juru bicaranya juga menolak keras narasi yang menyebut negaranya kembali menjadi “titik panas” pelatihan ekstremis.
“Kunjungan singkat tersebut tidak cukup menjadi dasar untuk mengklaim adanya pelatihan militer. Kelompok-kelompok militan di selatan saat ini sudah sangat terdegradasi dan kehilangan kepemimpinan,” ujar Eduardo Año dalam keterangannya yang dikutip dari Al Jazeera.
Penyelidikan Australia Tetap Berlanjut Meskipun Manila membantah adanya kamp pelatihan, pihak berwenang Australia tetap menyelidiki motif di balik perjalanan satu bulan tersebut. Apalagi, polisi New South Wales menemukan bendera yang terkait dengan ideologi ISIS di dalam kendaraan pelaku pasca-penyerangan yang menewaskan 15 orang di Sydney.
Sejauh ini, otoritas intelijen menduga pelaku kemungkinan teradikalisasi secara mandiri (lone wolf) melalui konten online, mengingat tidak adanya catatan komunikasi langsung dengan sel teroris aktif selama di Filipina.[]










