Seanteronews – Sejumlah pasangan calon pengantin dikabarkan menjadi korban dugaan penipuan layanan pernikahan oleh sebuah wedding organizer. Pemilik WO tersebut, bersama beberapa stafnya, telah ditangkap dan diamankan oleh aparat setelah puluhan laporan masuk.
Korban mengaku telah membayar lunas paket pernikahan—termasuk catering, dekorasi, dan layanan vendor lain—namun saat hari H banyak fasilitas yang dijanjikan tidak disediakan. Beberapa resepsi bahkan berlangsung tanpa hidangan, dekorasi minim, dan tanpa dukungan vendor, padahal tamu sudah datang.
Penelusuran aparat menunjukkan bahwa total laporan mencapai puluhan hingga ratusan korban dari berbagai wilayah. Dugaan penipuan mencakup penggelapan uang dan kelalaian pelaksanaan kontrak layanan pernikahan, sehingga banyak pasangan menanggung kerugian besar baik materi maupun reputasi sosial.
Kelima orang terkait—including pemilik WO dan staf—saat ini sedang diperiksa intensif. Polisi menyebut bahwa proses hukum akan dijalankan sesuai regulasi agar korban mendapat keadilan dan pihak yang bertanggung jawab bisa mempertanggungjawabkan tindakan mereka.
Kasus ini memicu keprihatinan luas publik terhadap maraknya penyalahgunaan layanan pernikahan komersial. Banyak netizen mengecam tindakan penyelenggara yang memanfaatkan momen sakral seperti pernikahan untuk keuntungan pribadi tanpa tanggung jawab.
Para korban pun diimbau untuk lebih teliti sebelum memilih vendor pernikahan: memeriksa reputasi, meminta kontrak tertulis, dan menghindari pelunasan penuh sebelum layanan benar-benar terjamin. Kasus ini menjadi pelajaran agar layanan jasa pernikahan bisa lebih transparan dan bertanggung jawab.
Dengan ditangkapnya pihak WO, harapan kini berada pada hasil investigasi dan pemulihan hak korban. Jika proses hukum berjalan sesuai aturan, kasus ini bisa menjadi peringatan kuat bagi penyelenggara jasa pernikahan agar lebih profesional dan etis.[]










