SEANTERONEWS.com – Pengamat politik nasional, Ray Rangkuti, secara tajam menilai bahwa satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto bersama Gibran Rakabuming Raka belum menunjukkan arah yang jelas dan justru “semrawut”. Dalam diskusi “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Indonesia Emas atau Cemas?”, Ray mengatakan bahwa koordinasi antarpejabat masih rancu, kebijakan nasional dan daerah belum selaras, serta rakyat mulai kehilangan kepercayaan.
Ray mengemukakan lima faktor utama jadi dasar penilaian kritisnya: Pertama, ia menilai bahwa hasil Pilkada 2024 malah memperkuat praktik dinasti politik dan politik uang—yang menurutnya semakin merusak tatanan demokrasi akar rumput. Kedua, kerusuhan akhir Agustus 2025 yang disertai perusakan gedung DPR dan rumah legislator dianggap bukti kegagalan pemerintah dalam meredam ketidakpuasan publik. Ketiga, Ray menyoroti sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat yang terlalu dominan sementara pemerintahan daerah justru makin terpinggirkan. Keempat, ia mencatat peran oposisi yang melemah sehingga kontrol terhadap kebijakan pemerintah menurun. Kelima, ia menilai bahwa pemerintah belum mampu menunjukkan capaian substansial di bidang ekonomi dan sosial sesuai janji kampanye.
Menurut Ray, bukan hanya soal angka atau statistik masyarakat kini memerhatikan apakah pemerintahan mampu menghadirkan keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada rakyat bawah. “Situasi ini seperti lalu-lintas tanpa rambu: siapa mau ke kiri, mau ke kanan, mau lurus tak jelas,” kata Ray. Ia mengingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perubahan signifikan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik akan makin terkikis dan legitimitas pemerintahan bisa menerima ujian berat.[]










