SEANTERONEWS.com – Hamas sedang meninjau rencana gencatan senjata yang diajukan oleh Trump setelah menerima pembekalan dari Qatar dan Mesir. Proposal ini diklaim sebagai kerangka perdamaian baru yang dapat menghentikan konflik Israel-Gaza, dan Hamas menyatakan kesediaannya untuk mempertimbangkan dengan niat baik.
Sementara itu, kelompok Pergerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) menolak pengajuan tersebut serta merta. Ketum PIJ, Ziyad al-Nakhalah, menyebut rencana itu sebagai “kesepakatan penuh Amerika-Israel” yang menurutnya mencerminkan posisi Israel secara sempurna dan berbahaya bagi rakyat Palestina. Ia memperingatkan bahwa rencana itu berpotensi memicu serangan lebih lanjut serta memaksakan realitas baru yang merugikan perlawanan Palestina.
Sejumlah mediator, termasuk Qatar dan Mesir, telah menyampaikan rincian proposal Trump kepada Hamas dengan keyakinan bahwa pihaknya akan mempertimbangkannya. Namun negosiasi tetap mengecam keinginan bahwa semua bala tentara Israel harus mundur, pertukaran tahanan, hingga pembentukan pemerintahan sementara di Gaza. Hamas menyatakan bahwa mereka belum memberikan jawaban resmi, tetapi akan merespon dengan mempertimbangkan kepentingan nasional dan hak rakyat Palestina.
PIJ, berbeda dengan Hamas yang masih membuka opsi dialog, justru menolak ide pertemuan tersebut karena menilai bahwa proposal itu telah dirancang tanpa keadilan atau keikutsertaan sejati dari pihak Palestina. Menurut al-Nakhalah, proposal tersebut memainkan narasi global agar konflik tampak sebagai tawaran damai yang adil, padahal menurutnya justru menyamarkan dominasi kekuatan besar.
Situasi ini menunjukkan adanya perbedaan strategi dalam perlawanan Palestina terhadap ikut campur urusan diplomatik internasional. Hamas tampak lebih fleksibel dan strategis dalam menimbang opsi perdamaian, sedangkan PIJ tetap menekankan jalan konfrontasi dan keadilan penuh. Seiring konflik terus berlangsung, dinamika ini dapat mempengaruhi kekuatan tawar Palestina dalam negosiasi ke depan.[]










