SEANTERONEWS.com – Paradigma restorasi lahan basah kini melompat dari sekadar pemadaman api menuju penyediaan mata pencaharian ramah ekosistem bagi masyarakat desa lingkar hutan. Pendekatan terpadu tersebut diuji coba melalui penanaman tumpang sari vegetasi bambu dan pohon jelutung di lahan percontohan (demplot plasma) Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Jumat (30/10/2026).
Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN), Prof. Satyawan Pudyatmoko, menyatakan bahwa tapak pemulihan di OKI merupakan salah satu model keberhasilan restorasi ekologis berbasis pembelajaran nyata. Kawasan tersebut memiliki riwayat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang, setidaknya pada periode 1997/1998 serta 2006. Berkat program revegetasi yang konsisten, kini sedikitnya 30 spesies pohon berkayu telah tumbuh rimbun di hamparan rawa tersebut.
“Fakta di OKI membuktikan bahwa pemulihan ekosistem gambut yang rusak berat dapat berhasil dilakukan secara optimal. Model percontohan ini akan kami jadikan acuan standardisasi untuk direplikasi ke berbagai lanskap gambut di Indonesia,” terang Satyawan dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/10/2026).
Mengingat sekitar 10 persen dari total bentang lahan gambut nasional terkonsentrasi di Sumatera Selatan, Satyawan menekankan pentingnya merawat gambut melalui pendekatan insentif ekonomi riil. Menurutnya, pemulihan alam akan gagal bertahan lama jika mengabaikan periuk nasi warga setempat.
“Kelestarian gambut hanya bisa terjaga jika masyarakat merasakan manfaat ekonominya secara langsung. Saat lahan terkelola secara produktif dan ada denyut ekonomi yang berputar, fungsi ekosistem akan terlindungi dan potensi karhutla dapat dipangkas serendah mungkin,” paparnya, seraya mengingatkan kearifan lokal masa lalu seperti tradisi peternakan kerbau rawa yang harmonis dengan lahan basah.
Bambu sebagai Solusi Alamiah dan Rantai Hilirisasi Mebel
Kombinasi vegetasi yang diuji coba memiliki keunggulan fungsional yang saling melengkapi. Pohon jelutung dipilih karena merupakan flora asli rawa gambut yang mampu tumbuh optimal tanpa memerlukan pengeringan muka air tanah, serta menghasilkan getah lateks bernilai ekonomi jangka panjang.
Sementara itu, tanaman bambu dihadirkan sebagai inovasi solusi berbasis alam (nature-based solutions). Ketua Umum Komunitas Pemuda Ekonomi Hijau Indonesia (KPEHI), Agi Diantoro, menguraikan bahwa bambu memiliki kemampuan hidrologis istimewa dalam mempertahankan kebasahan ekosistem gambut.
“Bambu bukan sekadar tanaman penghijauan, melainkan benteng alami mitigasi kebakaran. Satu rumpun bambu dewasa berpotensi menyimpan air hingga 5.000 liter, sementara jejaring akar serabutnya menjaga kelembapan mikro tanah gambut di sekitarnya,” urai Agi.
KPEHI tidak hanya membatasi proyek ini pada tataran budidaya, melainkan telah menyiapkan peta jalan hilirisasi hasil panen. Bekerja sama dengan industri mebel binaan, kayu bambu hasil tebang laras akan diolah menjadi produk furnitur ekspor, lantai parket (flooring), hingga ornamen dekorasi interior bernilai tambah tinggi.
Konsep intervensi lingkungan yang dipadukan dengan kepastian serapan pasar ini sebelumnya telah dipaparkan langsung kepada Wakil Kepala BPGMN, Mayjen TNI Sriyanto M.I.R., dan memperoleh dukungan penuh untuk diterapkan di kawasan rawan bencana.
Pada tahap peletakan fondasi, penanaman dimulai di demplot seluas satu hektare dengan menancapkan sekitar 300 rumpun bibit bambu. Selanjutnya, KPEHI membidik ekspansi perluasan tanam hingga mencapai 100 hektare yang dikelola langsung oleh kelompok tani desa-desa penyangga gambut.
Dengan siklus tebang panen bambu yang relatif singkat yakni sekitar 3,5 tahun, inisiatif ini diharapkan mampu menghidupkan ekonomi hijau masyarakat lokal sembari mengunci ancaman kebakaran hutan dari bentang lahan gambut Sumatera Selatan.[]











