SEANTERONEWS.com – Sentimen kehati-hatian kembali membayangi pasar keuangan dalam negeri pada penutupan perdagangan Selasa (27/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup masif hingga tersungkur hampir dua persen, sementara nilai tukar rupiah di pasar acuan bank sentral terpantau bergerak melemah.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir di level 5.266,13, menyusut 106,96 poin atau terpangkas 1,99 persen dibandingkan posisi penutupan sesi sebelumnya pada Senin (26/10/2026).
Penurunan harian ini mempertegas tren pelemahan indeks komposit domestik dalam beberapa hari terakhir. Dihitung secara akumulatif dalam dua sesi perdagangan berturut-turut sejak Jumat (23/10/2026), IHSG tercatat telah tergerus sebesar 3,18 persen akibat aksi pelepasan portofolio oleh investor di tengah dinamika pasar global maupun regional.
Kurs Referensi Rupiah Terkikis
Koreksi di pasar ekuitas berbanding lurus dengan pergerakan mata uang garuda di pasar valuta asing. Mengacu pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada 27 Oktober, kurs rupiah ditetapkan berada pada posisi Rp18.139 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka tersebut mencerminkan kenaikan kurs sebesar Rp23 atau naik 0,13 persen bagi dolar AS dibandingkan posisi 26 Oktober, yang menandakan terjadinya depresiasi terhadap rupiah. Pelemahan terbatas ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik masih berlangsung di tengah tingginya permintaan valas.
Ketahanan Kebijakan Moneter
Pelemahan aset pasar modal dan nilai tukar ini terjadi di tengah sinyal stabilisasi dari otoritas moneter. Bank Indonesia sebelumnya telah menetapkan suku bunga acuan BI-Rate berada di level 5,75 persen lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diputuskan pada 21 Oktober 2026.
Penetapan suku bunga acuan tersebut sejatinya dirancang sebagai jangkar stabilitas makroekonomi guna menahan laju inflasi serta menjaga daya tarik imbal hasil aset domestik. Namun, tekanan eksternal dan dinamika arus modal lintas negara tampaknya masih menjadi faktor dominan yang membatasi penguatan rupiah dan pergerakan IHSG hingga penutupan perdagangan hari ini. Para pelaku pasar diproyeksikan akan terus mencermati arah sentimen global dan likuiditas perbankan untuk memetakan pergerakan pasar pada sesi-sesi selanjutnya.[]










