SEANTERONEWS.com – Prospek karier serta program pemagangan di luar negeri, khususnya di Negeri Sakura, terbuka lebar bagi angkatan kerja tanah air. Kendati demikian, peluang emas tersebut menuntut standar kesiapan yang matang, terutama dalam hal penguasaan teknis bidang pekerjaan serta kecakapan berkomunikasi menggunakan bahasa asing agar para pemuda mampu beradaptasi secara optimal dengan kultur industri global.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Republik Indonesia, Afriansyah Noor, ketika menghadiri agenda penguatan sinergi pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi, Jawa Timur.
Menurut Wamenaker, keahlian berbahasa asing memegang peranan vital yang tidak boleh diabaikan oleh masyarakat yang berorientasi meniti masa depan di kancah internasional. Keterampilan teknis semata dinilai belum cukup jika seorang pekerja mengalami kendala komunikasi dalam menyesuaikan diri dengan ritme operasional maupun dinamika kehidupan sehari-hari di negara penempatan.
“Skill bahasa asing itu penting, khususnya bagi anak-anak yang berminat bekerja di luar negeri, termasuk Jepang,” ungkap Afriansyah di hadapan ratusan peserta program pelatihan.
Di sela-sela kunjungan kerjanya, Wamenaker turut memberikan pembekalan langsung kepada para peserta yang lolos seleksi Program Magang Nasional (MagangHub) serta 84 kandidat terpilih untuk program pemagangan ke Jepang hasil kolaborasi strategis bersama International Manpower (IM) Japan.
Ia menggarisbawahi bahwa seluruh peserta wajib digembleng secara menyeluruh mencakup aspek pengetahuan dasar, keahlian vokasi, ketahanan mental, hingga pendalaman bahasa—sebelum resmi diberangkatkan ke luar negeri. Langkah persiapan bertahap ini krusial agar mereka tidak sekadar siap secara fisik dan mental, melainkan mampu merespons standar disiplin kerja tinggi di negara tujuan.
Optimalisasi Sentra Pelatihan di Daerah
Kabupaten Banyuwangi sendiri mendapat sorotan khusus dari pemerintah pusat lantaran wilayah tersebut tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat pengiriman pekerja migran yang cukup tinggi. Tingginya angka mobilitas tenaga kerja ini menjadikan upaya penguatan fasilitas diklat lokal sebagai agenda prioritas nasional.
Peningkatan kualitas lembaga pelatihan vokasi diarahkan agar selaras dengan dinamika kebutuhan riil pasar kerja global. Dengan orientasi tersebut, para lulusan pelatihan tidak hanya mengantongi lembar sertifikat kelulusan, tetapi benar-benar menguasai keahlian aplikatif yang siap diserap oleh industri.
Pada kesempatan yang sama, BPVP Banyuwangi resmi membuka gelombang baru Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) Batch 4 serta kelas Non-Batch periode September 2026, yang melibatkan total ratusan peserta dalam berbagai kejuruan. Program tersebut mencakup bidang-bidang produktif mulai dari peracikan minuman kopi, pengolahan hasil perikanan, pengoperasian mesin industri moderen seperti CNC bubut, hingga sektor pariwisata, perhotelan, tata busana, dan pengelasan.
Waspada Perekrutan Ilegal
Selain memotivasi para peserta magang, Wamenaker turut melontarkan peringatan keras kepada masyarakat luas agar meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya modus penipuan lowongan pekerjaan ke luar negeri. Oknum penyalur ilegal kerap memanfaatkan iming-iming gaji fantastis tanpa prosedur pemberangkatan yang transparan.
Pemerintah mengimbau calon tenaga kerja agar senantiasa mengecek legalitas penempatan melalui mekanisme resmi yang diakui oleh instansi berwenang. “Jangan sekali-kali bekerja ke luar negeri yang tidak ada kerja sama dengan pemerintah Indonesia,” tandas Afriansyah menegaskan.[]










