BREAKING

ENTERTAINMENT

Soroti Kemitraan Didit Hediprasetyo Foundation, Seniman Layangkan Protes di ARTJOG 2026

Keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation sebagai sponsor di ARTJOG 2026 memicu protes seniman. Pakar mengingatkan pentingnya independensi pameran.

SEANTERONEWS.com – Penyelenggaraan pameran seni rupa tahunan bergengsi, ARTJOG 2026, diwarnai gelombang protes dari kalangan seniman dan mitra kerja terkait masuknya penyokong dana dari lingkaran kekuasaan. Dinamika sosial ini memicu ruang diskusi hangat mengenai batas-batas independensi ruang ekspresi seni di hadapan pusat kekuasaan.

Aksi penolakan tersebut mencuat pasca-keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebuah yayasan filantropi yang didirikan oleh putra Presiden RI Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo sebagai salah satu mitra strategis (strategic partner) sekaligus sponsor kegiatan. Sejumlah pihak khawatir keterlibatan entitas yang dekat dengan kekuasaan ini berpotensi mengancam kemandirian serta netralitas kurasi yang selama ini melekat pada citra kritis ARTJOG.

Sebagai informasi, pameran yang mengusung tema besar “Ars Longa Generatio” ini resmi dibuka di pelataran Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, pada Jumat (19/6/2026) lalu, dan direncanakan berlangsung hingga 30 Agustus 2026 mendatang. Di bawah kurasi Farah Wardani, terdapat 96 seniman yang memamerkan karya visual terbaik mereka di ajang tahunan ini.

Sebelum pintu galeri resmi dibuka, riak penolakan sudah ramai disuarakan melalui jejaring media sosial. Guna meredam tensi publik, pihak panitia akhirnya membatalkan agenda pidato sambutan dari Didit Hediprasetyo pada malam pembukaan serta menghapus logo dan nama DHF dari seluruh materi publikasi resmi ARTJOG 2026.

Namun, ketegangan tidak sepenuhnya mereda. Sesaat setelah upacara pembukaan selesai, seorang pria berpakaian serbahitam secara mendadak memanjat gerbang masuk galeri utama untuk melakukan aksi teatrikal monolog.

Dalam orasinya, ia meneriakkan kritik tajam bahwa “seni telah mati” dan menyebut kaum intelektual tanpa hasrat berontak hanya bertindak sebagai perpanjangan tangan penguasa, sebelum akhirnya diturunkan oleh petugas keamanan setempat.

Menanggapi dinamika tersebut, Pakar Kajian Budaya dan Media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Radius Setiyawan, menilai kecemasan para pekerja seni sangat rasional. Hal ini dikarenakan reputasi historis ARTJOG dikenal sebagai ruang subur bagi lahirnya karya-karya seni kritis yang kerap menantang relasi kuasa dan dominasi politik.

“Penolakan terhadap pelibatan yayasan milik anak Presiden ini memiliki dasar argumentasi yang sangat dapat dipahami,” ujar Radius dalam keterangan resminya, Sabtu (20/6/2026) kemarin.

Kendati demikian, Radius memaparkan bahwa secara umum, sebuah festival seni sah-sah saja menerima kucuran dana atau kemitraan dari berbagai pihak, baik korporasi swasta, filantropi, maupun yayasan keluarga. Di berbagai negara, banyak ruang seni yang mampu bertahan hidup berkat dukungan tersebut.

“Selama proses penggalangan dana tersebut berjalan legal, transparan, serta sama sekali tidak mengintervensi independensi kuratorial, seleksi seniman, maupun esensi gagasan karya, tidak ada alasan otomatis untuk menolaknya,” tambahnya.

Namun, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga persepsi publik. Menurutnya, kredibilitas simbolik sebuah pameran seni dipertaruhkan ketika jarak antara ruang seni dan pusat kekuasaan dinilai terlalu dekat oleh masyarakat.

Menghadapi kritik tajam publik, manajemen ARTJOG memastikan bahwa pameran tahun ini akan tetap berjalan sesuai jadwal yang ditentukan. Pihak penyelenggara menerangkan bahwa dukungan dari sponsor sangat krusial demi menjaga keberlangsungan festival agar dapat hadir secara konsisten setiap tahunnya.

Manajemen menyatakan siap menjadikan seluruh respons dan kritik dari publik sebagai bahan evaluasi komprehensif, khususnya dalam memformulasikan pendekatan kemitraan dengan calon penyokong dana di masa mendatang.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts