LIBURAN seharusnya menyisakan kenangan manis dan menyegarkan pikiran. Namun, siapa sangka sisa perjalanan liburan pada tanggal 17 Mei 2026 justru memberikan sebuah plot twist komedi yang tak terlupakan di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Cerita ini bermula pada pukul 18.30 waktu setempat. Setelah menempuh perjalanan panjang yang cukup menguras tenaga, indikator bahan bakar mobil mulai menunjukkan posisi yang memprihatinkan. Jarum bensin seolah melambai-lambai meminta pertolongan darurat.
Beruntung, letak SPBU tidak terlalu jauh. Lebih melegakan lagi, antrean sore itu tampak bersahabat. Mobil kami dengan mulus menempati urutan kelima. Dalam hitungan matematis sederhana, ini adalah posisi yang sangat menguntungkan. “Ah, sebentar lagi juga selesai,” pikir saya kala itu.
Jeda Sejenak untuk Ibadah
Hanya berselang beberapa menit setelah kami mematikan mesin, kumandang azan Magrib terdengar. Sesuai prosedur yang berlaku, petugas SPBU menghentikan operasional sementara untuk melaksanakan ibadah.
Momen ini justru menjadi berkah tersendiri. Saya dan keluarga memutuskan turun dari mobil dan bergegas menuju musala SPBU untuk menunaikan salat Magrib. Setelah kewajiban tertunaikan, kami kembali ke mobil dan beristirahat sejenak sambil menunggu pom bensin kembali beroperasi.
Tak lama kemudian, lampu SPBU kembali benderang. Petugas mulai memegang nozzle, pertanda pelayanan telah dilanjutkan. Di dalam kabin, suasana sangat cair. Kami berkelakar dan bersendau gurau, merasa aman karena hanya ada empat mobil di depan kami. Ekspektasi saya, paling lama 15 menit kami sudah bisa kembali mengaspal.
Ekspektasi vs Realita yang Menguji Kesabaran
Satu jam berlalu. Suasana kabin yang tadinya penuh tawa mulai berganti dengan tanda tanya. Anehnya, antrean sama sekali tidak bergeser, bahkan tidak satu sentimeter pun!
Awalnya, saya masih berusaha positive thinking. Hati dan pikiran masih adem ayem. “Mungkin sistem komputernya sedang error, atau ada pergantian shift petugas,” hibur saya dalam hati.
Namun, ketika jarum jam menunjukkan kami sudah nongkrong di situ selama 1,5 jam, rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa malas. Saya memutuskan turun dari mobil untuk mengecek langsung ke area pompa. Pasti ada sesuatu yang tidak beres di depan sana.
Di tengah perjalanan menuju pompa, atensi saya tertuju pada seorang supir truk yang sedang berdiri bersandar. Ia tampak meracau sendiri sambil sesekali melirik ke arah saya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Didorong rasa ingin tahu tingkat tinggi, saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya.
“Pak, maaf, ini sebenarnya ada masalah apa, ya? Kok antreannya lama sekali nggak gerak-gerak?” tanya saya dengan nada serius.
Bukannya memberikan jawaban logis soal mesin rusak atau sistem down, supir itu justru menatap saya dengan santai, lalu tertawa renyah.
Dengan gaya filosofis tingkat tinggi, ia menjawab, “Mas, perjalanan mereka di depan itu jauh banget. Makanya butuh pasokan bahan bakar yang banyak. Kalau nggak salah sih… mau sampai ke akhirat!”
Mendengar celetukan sang supir, saya hanya bisa tertegun sejenak sebelum akhirnya ikut tertawa lepas. Rasa kesal menunggu 1,5 jam seketika luntur berganti tawa pasrah. Ternyata, di balik setiap antrean SPBU yang macet total, selalu ada realita kocak tentang oknum pengemudi yang mengisi bahan bakar seolah-olah sedang bersiap melakukan touring beda alam!









