BREAKING

POLITIK

Anies Puji JK Setinggi Langit: Sinyal Pilpres 2029?

Anies Baswedan memuji kiprah Jusuf Kalla (JK) di milad ke-84 sebagai tokoh perdamaian. Pengamat menilai manuver ini sebagai sinyal dukungan menuju Pilpres 2029.

SEANTERONEWS.com – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, hadir dalam acara tasyakuran milad ke-84 Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). Dalam momen istimewa tersebut, Anies melontarkan pujian luar biasa kepada JK, menyebutnya sebagai teladan sejati bangsa yang memiliki kontribusi masif dalam merawat perdamaian di Indonesia.

Pujian ini datang di tengah pusaran dinamika politik, di mana JK diketahui tengah dihadapkan pada sejumlah polemik dengan beberapa figur publik, seperti Ade Armando, Grace Natalie, hingga Abu Janda. Alih-alih terseret dalam narasi konflik, Anies memilih fokus menyoroti jejak emas JK.

Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai bahwa manuver Anies tersebut memiliki makna politis yang tajam. “Tanpa perlu menyinggung konflik yang sedang terjadi, sanjungan Anies terhadap JK secara tidak langsung justru menenggelamkan suara para pengkritiknya,” ungkap Erizal, Senin (18/5/2026).

Dalam pidatonya, Anies menegaskan bahwa ‘sidik jari’ JK tertanam kuat dalam resolusi konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Ia juga menepis keras berbagai tuduhan miring, termasuk isu penistaan agama yang sempat diarahkan kepada JK, dengan menyebutnya sebagai tuduhan yang salah alamat dan keliru.

Menurut Erizal, kekaguman Anies terhadap JK memang tidak perlu diragukan lagi. “Sehebat itukah JK di mata Anies Baswedan? Jawabannya tentu saja iya,” jelasnya.

Namun, Erizal mengingatkan bahwa pujian setinggi langit semacam ini bisa memicu persepsi yang berbeda di mata publik. Secara historis, sanjungan yang terlalu terpusat pada figur JK dalam proses perdamaian pernah menjadi pemicu retaknya hubungan kongsi antara JK dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Publik bisa saja bertanya, masa iya tidak ada peran SBY sama sekali di Aceh? Mengingat posisi SBY saat itu adalah Presiden yang memegang kendali penuh,” tambah Erizal.

Kedekatan antara Anies dan JK bukanlah rahasia baru di panggung politik nasional. Anies secara terbuka mengagumi etos kerja JK yang dinilainya tak pernah berhenti berpikir, berkarya, dan menggagas ide-ide segar.

Kendati demikian, Erizal memberikan catatan kritis terkait realitas politik elektoral. Rekam jejak menunjukkan bahwa kehebatan politik JK tidak lepas dari figur pendampingnya. JK berhasil menduduki kursi Wapres pada Pilpres 2004 karena berpasangan dengan SBY, dan kembali mengulang kesuksesan di 2014 saat mendampingi Joko Widodo.

“Ketika JK maju sebagai Calon Presiden didampingi Wiranto pada Pilpres 2009, realitasnya mereka mengalami kekalahan telak. Sejarah membuktikan bahwa JK tidak memenangkan pertarungan secara sendirian,” papar Erizal.

Meski begitu, Anies tampaknya memiliki kalkulasi tersendiri. Loyalitas tanpa batas yang ditunjukkan Anies diyakini sebagai investasi politik jangka panjang. Jika Anies berencana kembali bertarung di arena Pilpres 2029 mendatang, dukungan dan pengaruh politik dari patron sekelas JK tentu menjadi modal krusial yang ia harapkan.

“Pada akhirnya, bagi Anies, JK tetaplah prototipe pemimpin paripurna yang sangat layak dijadikan panutan oleh generasi muda Indonesia,” tutup Erizal.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts