BREAKING

INTERNASIONAL

AMEC Bedah Kompleksitas Geopolitik Timur Tengah Terbaru

Webinar Internasional AMEC membedah krisis Timur Tengah, mulai dari nasib Palestina di bawah Board of Peace hingga peta kekuatan baru Iran dan negara Teluk.

SEANTERONEWS.com – Asia Middle East for Research and Dialogue (AMEC) menggelar webinar internasional bertajuk “Understanding Contemporary Middle East Dynamics: Israeli Colonialism in Palestine, Gulf Strategic Policies, and Iran’s Nuclear Trajectory” pada Rabu (13/5/2026). Forum ini menyoroti pergeseran peta kekuatan di Timur Tengah yang kian kompleks di tengah tarik-menarik kepentingan global.

Acara yang dibuka oleh Direktur Eksekutif AMEC, Dr. Muslim Imran, ini menghadirkan para pakar lintas negara dan alumni universitas ternama dunia. Diskusi yang dimoderatori oleh Mumtaza Chairannisa (alumni Cambridge University) ini mengupas tuntas tiga isu sentral: masa depan Palestina, arah kebijakan negara Teluk, dan daya tahan strategis Iran.

Peneliti Senior BRIN, Prof. M. Hamdan Basyar, menyoroti ancaman baru bagi kedaulatan Palestina melalui rencana pengelolaan Gaza di bawah Board of Peace. Menurutnya, mekanisme ini justru berisiko mempermanenkan ketergantungan Palestina pada pihak asing.

“Jalan menuju kemerdekaan Palestina kini dibuat sangat bersyarat dan subjektif, bergantung pada penilaian kekuatan eksternal. Hal ini mengaburkan esensi kemerdekaan sebagai hak dasar sebuah bangsa,” tegas Prof. Hamdan.

Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, memberikan analisis tajam mengenai ketidakseimbangan lanskap konflik regional. Ia mempertanyakan klaim defensif Israel yang seringkali kontradiktif dengan operasi militer aktif di lapangan.

Di sisi lain, Iran lebih banyak memainkan peran melalui jaringan proksi. Kesenjangan pola operasi ini menimbulkan pertanyaan besar apakah tindakan militer Israel murni untuk mempertahankan diri atau merupakan bagian dari agenda ekspansi yang lebih luas.

Peneliti AMEC, Pizaro Gozali Idrus, menangkap adanya tren normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dengan Iran sebagai upaya mencari otonomi politik. Namun, langkah ini masih terhambat oleh dominasi Amerika Serikat.

“Meskipun ada upaya rekonsiliasi regional, tantangan besar muncul karena Tiongkok dan Rusia belum menunjukkan kesiapan untuk menjadi penjamin keamanan militer di Teluk menggantikan posisi AS,” jelas Pizaro.

Menutup diskusi, Co-Founder AsiaWE Malaysia, Abdolreza Alami, mematahkan spekulasi mengenai melemahnya pengaruh Iran. Ia menilai posisi geografis yang strategis serta kemampuan militer yang solid menjadi faktor kunci daya tahan Teheran.

“Iran memiliki daya penggetar melalui kekuatan persenjataan dan jaringan perdagangan jalur laut maupun darat yang sangat kuat. Hal ini membuat tekanan eksternal sulit meruntuhkan posisi mereka di kawasan,” pungkas Abdolreza.

Webinar ini menegaskan bahwa stabilitas di Timur Tengah masih jauh dari jangkauan selama kepentingan kekuatan besar dunia masih mendominasi narasi perdamaian dan keamanan di kawasan tersebut.[]

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts