BANDA ACEH – Gema takbir yang berkumandang di seluruh penjuru Serambi Mekkah tidak hanya menandakan kemenangan spiritual, tetapi juga menjadi aba-aba dimulainya “kenduri” raksasa di setiap rumah warga. Di Aceh, perayaan Idulfitri 1447 H memiliki karakteristik unik di mana meja tamu dan ruang makan bertransformasi menjadi panggung utama silaturahmi.
Setelah tradisi Meugang (masak daging bersama) usai, kini giliran deretan penganan manis dan gurih khas Tanah Rencong yang mengambil alih perhatian. Bagi para pemudik maupun wisatawan yang sedang berkunjung, berikut adalah daftar kuliner wajib yang menjadi identitas tak terpisahkan dari Lebaran di Aceh:
Timphan: Sang “Ratu” Meja Tamu
Rasanya belum sah berlebaran di Aceh jika belum mencicipi Timphan. Penganan berbahan dasar tepung ketan yang dibalut daun pisang muda ini merupakan hidangan pertama yang lazim dicari tamu. Isiannya yang legit biasanya berupa selai sarikaya atau kelapa parut manis (unti)—memberikan sensasi rasa yang sangat serasi saat disandingkan dengan segelas kopi saring khas Aceh.
Lemang Ketan dan Selai Sarikaya
Meski dikenal di berbagai penjuru Nusantara, Lemang di Aceh memiliki tempat spesial saat Idulfitri. Beras ketan yang dimasak dalam bambu dengan siraman santan kental menghasilkan tekstur gurih yang meresap hingga ke dalam. Cara menikmatinya pun sangat khas: potongan lemang dicocol ke dalam selai sarikaya buatan rumahan yang kental, menciptakan perpaduan rasa gurih dan manis yang memanjakan lidah.
Kue Bhoi dan Keukarah: Teman Setia Ngobrol Panjang
Untuk camilan yang memiliki daya tahan lama selama berhari-hari perayaan, masyarakat Aceh mengandalkan Kue Bhoi dan Keukarah.
Kue Bhoi: Bolu kering dengan berbagai cetakan unik seperti motif ikan atau bunga.
Keukarah: Sering disebut kue sarang burung karena bentuknya yang berserat halus dan renyah.
Teksturnya yang kering dan garing menjadikannya teman yang sempurna untuk menemani obrolan panjang saat kerabat jauh datang berkunjung.
Meuseukat dan Dodol: Simbol Pemuliaan Tamu
Di beberapa wilayah, tamu istimewa akan disambut dengan Meuseukat dodol nanas berwarna kuning cerah dengan tekstur kenyal. Hal yang paling menonjol dari Meuseukat adalah ukiran motif bunga yang cantik di permukaannya. Kehadiran kue ini bukan sekadar soal rasa, melainkan cerminan filosofi Peumulia Jamee (memuliakan tamu) yang dijunjung tinggi dalam adat istiadat Aceh.
Filosofi di Balik Hidangan
Momen Lebaran di Aceh adalah perpaduan harmonis antara spiritualitas dan kekayaan rasa. Meja makan yang penuh dengan hidangan tradisional ini bukan sekadar sajian makanan, melainkan jembatan silaturahmi yang mempererat ikatan persaudaraan antarwarga setelah sebulan penuh berpuasa.
Kekayaan kuliner ini membuktikan bahwa tradisi Aceh tetap terjaga kelestariannya di tengah arus modernisasi, menjadikan momen mudik ke Tanah Rencong selalu memberikan kesan mendalam bagi siapa pun yang merasakannya.











