ACEH BESAR – Bagi para pencinta kuliner Nusantara, Aceh selalu menyimpan rahasia rasa yang memikat. Salah satu yang paling ikonik namun langka adalah Ie Bu Peudah. Makanan tradisional khas Kabupaten Aceh Besar ini bukan sekadar hidangan pengganjal lapar, melainkan simbol sejarah dan persatuan masyarakat yang telah bertahan sejak era Kesultanan Aceh.
Uniknya, Kawan tidak bisa menjumpai hidangan ini setiap hari. Ie Bu Peudah merupakan kuliner musiman yang identik dengan suasana sakral bulan suci Ramadan.
Nama “Ie Bu Peudah” secara harfiah merujuk pada bubur dengan cita rasa pedas yang khas. Namun, rasa pedas ini tidak berasal dari cabai semata, melainkan dari kompleksitas rempah dan dedaunan.
Proses pembuatannya tergolong rumit dan sangat tradisional. Bahan utamanya terdiri dari 44 macam jenis dedaunan yang diambil langsung dari hutan. Dedaunan berkhasiat ini kemudian diracik bersama lada, kunyit, lengkuas, bawang putih, beras, serta parutan kelapa. Perpaduan tersebut menghasilkan tekstur bubur yang lembut dengan kekayaan rasa pedas, manis, dan asin yang menyatu sempurna.
Menilik sejarahnya, Ie Bu Peudah memiliki kedudukan terhormat di masa lampau. Pada era Kerajaan Aceh, hidangan ini merupakan sajian khusus yang dihidangkan untuk menjamu tamu-tamu agung kerajaan. Menyuguhkan Ie Bu Peudah dipandang sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan tertinggi terhadap tamu yang berkunjung.
Kini, tradisi tersebut tetap terjaga, namun fungsinya bergeser menjadi menu primadona saat berbuka puasa. Masyarakat meyakini kandungan rempah di dalamnya sangat baik untuk memulihkan stamina setelah seharian berpuasa.
Eksistensi Ie Bu Peudah tidak lepas dari semangat kebersamaan masyarakat Aceh Besar. Salah satu wilayah yang masih memegang teguh tradisi ini adalah Desa Bueng Sidom, Kecamatan Blang Bintang.
Di desa ini, pembuatan Ie Bu Peudah dilakukan secara kolektif. Menariknya, masyarakat setempat memiliki kebiasaan menyediakan tanah wakaf khusus yang ditanami berbagai bahan baku pembuatan bubur tersebut. Setiap sore di bulan Ramadan, warga akan bergotong royong memasak dalam kuali besar di halaman masjid atau meunasah, lalu membagikannya secara gratis kepada seluruh penduduk untuk dinikmati bersama saat azan magrib berkumandang.
Ie Bu Peudah adalah bukti nyata bagaimana kuliner mampu menjadi perekat sosial. Melalui proses memasak bersama, nilai-nilai warisan leluhur diturunkan kepada generasi muda. Di tengah gempuran makanan modern, Ie Bu Peudah tetap bertahan sebagai identitas budaya yang menegaskan kekayaan filosofis masyarakat Aceh Besar yang religius dan menjunjung tinggi kekeluargaan.[]











