BREAKING

POLITIK

Aktivis Māori Tāme Iti, Yang Pernah Dicap ‘Teroris’, Kini Dianggap Harta Nasional dan Merilis Memoar

SEANTERONEWS.com – Sebuah kisah dramatis tentang identitas, kolonialisme, dan perubahan persepsi publik akhirnya terungkap. Tāme Iti, aktivis hak-hak pribumi Māori yang paling dikenal di Selandia Baru (Aotearoa), merilis memoar berjudul “Mana”, yang menceritakan perjalanannya dari seorang pria yang pernah dicap “teroris” oleh negara, hingga kini dianggap sebagai “harta nasional”.

Rilis buku ini menggarisbawahi kontradiksi besar dalam sejarah modern Selandia Baru, di mana perjuangan untuk hak adat seringkali dianggap sebagai ancaman keamanan.

Perubahan Status Drastis: Dari Tahanan ke Ikon Budaya

Perubahan status Iti adalah inti dari kontroversi yang ia soroti. Pada tahun 2007, Tāme Iti termasuk di antara mereka yang ditangkap dalam penggerebekan anti-teror Te Urewera yang terkenal. Polisi saat itu mengklaim Iti membangun jaringan teroris domestik. Tuduhan itu akhirnya dicabut, dan Kepolisian Selandia Baru bahkan kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Tūhoe.

Kini, nasibnya berbalik 180 derajat. Tāme Iti, yang dikenal dengan gaya aktivisme teatrikal dan tato wajah (tā moko) khasnya, diakui sebagai tokoh budaya, seniman, dan bahkan menjadi finalis di ajang New Zealander of the Year.

Jantung Perjuangan Hak Adat di Memoar ‘Mana’

Buku “Mana” tidak hanya merupakan catatan pribadi, tetapi juga sejarah renaissance budaya dan politik Māori selama lima dekade. Iti menceritakan akar aktivismenya yang dimulai dari pengalaman masa kecil dipaksa menulis kalimat “Saya tidak akan berbicara Māori” sebagai hukuman — kalimat yang kini menjadi tema kuat dalam karya seni dan protesnya.

Perjuangannya meliputi:

  • Māori Land March 1975: Turut berperan penting dalam aksi besar-besaran yang mendesak pengakuan hak tanah Māori.

  • Kedutaan Besar Māori: Mendirikan kedutaan simbolis di luar parlemen pada tahun 1972 sebagai penanda tuntutan kedaulatan pribumi.

  • Artistik: Menggunakan seni dan penampilan untuk memaksa negara menghadapi sejarah kolonialnya.

Seruan Keras untuk “Membongkar Infrastruktur” Pemerintah

Dalam memoarnya, Tāme Iti menyerukan lebih dari sekadar reformasi, tetapi perombakan total sistem. Ia menulis: “Sudah waktunya untuk membongkar seluruh infrastruktur, sampai ke pondasinya… Sudah waktunya untuk hubungan baru.”

Iti juga secara langsung mengkritik pemerintahan koalisi yang sedang menjabat saat ini, menyebut mereka sebagai “saboteur“ karena berupaya membatalkan kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan representasi dan kesejahteraan Māori.

Buku “Mana“ menjadi catatan penting yang mengungkapkan bagaimana seorang aktivis yang teguh pada prinsipnya dapat mengubah narasi nasional dari ‘ancaman’ menjadi ‘harta’ yang tak ternilai.

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts