SEANTERONEWS.com – Gelombang revolusi kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar potensi masa depan, melainkan kepastian yang sudah di depan mata. Hal ini ditegaskan oleh Yulie Kwon Kim, Wakil Presiden Google untuk Workspace, yang menyebut bahwa pendorong utama perubahan drastis ini adalah Generasi Z yang lahir dan besar bersama teknologi AI.
Dalam wawancara eksklusif dengan Fortune, Kim menyatakan bahwa adopsi AI secara massal hanyalah masalah waktu, didorong oleh generasi baru yang tidak melihat AI sebagai hal baru, melainkan sebagai alat default dan esensial dalam produktivitas sehari-hari.
Menurut Yulie Kwon Kim, perbedaan mendasar antara Gen Z dan generasi sebelumnya adalah cara mereka berinteraksi dengan teknologi.
“Generasi Z adalah ‘pengguna asli’ (native users) AI. Bagi mereka, penggunaan alat AI untuk merangkum dokumen, menghasilkan draft email, atau membuat kode bukanlah sebuah fitur tambahan, melainkan bagian intrinsik dari cara mereka bekerja,” jelas Kim.
Hal ini secara langsung berdampak pada produk seperti Google Workspace, di mana fitur-fitur AI generatif telah terintegrasi langsung ke dalam tool yang mereka gunakan setiap hari. Seiring Gen Z memasuki angkatan kerja dan menduduki posisi strategis, mereka akan memaksakan adopsi AI yang lebih cepat dan menyeluruh di lingkungan korporat.
Prediksi Kim menggarisbawahi bahwa kesiapan AI suatu perusahaan akan segera ditentukan oleh kesiapan tenaga kerjanya. Perusahaan yang lamban mengintegrasikan AI akan berjuang untuk menarik dan mempertahankan talenta Gen Z yang mengharapkan alat-alat canggih sebagai standar.
Bagi generasi yang lebih tua, hal ini menimbulkan dilema eksistensial. Mereka harus beralih dari memandang AI sebagai alat bantu opsional menjadi pondasi utama yang memungkinkan mereka untuk bersaing dan mempertahankan relevansi di pasar kerja yang didominasi oleh efisiensi AI.
Kim menekankan bahwa tujuan AI bukan untuk menggantikan manusia, melainkan untuk mengalihkan waktu yang terbuang pada tugas-tugas administratif rutin kembali ke pekerjaan yang menuntut kreativitas dan pemecahan masalah yang kompleks.
Revolusi AI yang dipicu oleh Gen Z ini akan mengubah metrik produktivitas dan ekspektasi kerja di setiap industri, menuntut setiap profesional untuk segera menguasai keterampilan kolaborasi antara manusia dan mesin.[]









