SEANTERONEWS.com – Di pedalaman Pandeglang, seorang guru bernama Armani telah mendedikasikan dirinya hampir 17 tahun mengabdi di SDN Sorongan II (kelas jauh), Kampung Batu Payung — zona 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Setiap hari, ia memulai perjalanan panjang: memarkir kendaraan di titik terdekat, kemudian melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 3 kilometer, menyeberangi sungai (bahkan tanpa jembatan permanen), hanya untuk sampai ke kelas.
Kondisi sekolah tempat ia mengajar jauh dari kata memadai. Semua siswa — dari kelas 1 sampai 6 — diajar dalam satu ruang kelas yang atapnya bocor, lantainya banyak keramik yang terlepas, dan tanpa fasilitas toilet. Ruang kelas reyot ini harus menampung sekitar 23 murid dengan satu guru saja, mengajarkan seluruh mata pelajaran dasar.
Meski menghadapi medan sulit, fasilitas buruk, dan berbagai tantangan, semangat Armani tak pernah pudar. Ia tetap setia mengajar, karena percaya bahwa pendidikan adalah harapan satu-satunya bagi anak-anak di desa terpencil tersebut. Tanpa dia, kemungkinan besar generasi muda di sana tak akan mendapatkan akses pendidikan dasar.
Perjalanan harian yang dilaluinya — berjalan kaki panjang, menyeberangi sungai, melawan hujan dan medan berat — menunjukkan betapa besar pengorbanannya. Di saat banyak guru urban menolak tugas ke daerah terpencil, Armani berdiri teguh menjalankan panggilan hati.
Kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa di luar gemerlap kota, ada realitas keras di mana akses pendidikan masih menjadi sebuah perjuangan. Infrastruktur, jalan, jembatan, dan bangunan sekolah yang layak — semua itu masih jauh dari cukup di banyak sudut Nusantara.
Karena itu, perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan: mulai perbaikan jalan dan jembatan, renovasi sekolah, hingga peningkatan fasilitas dasar seperti sanitasi dan ruang kelas yang layak. Pendidikan sejati tak hanya soal guru dan kurikulum — tapi juga soal akses dan kenyamanan proses belajar.
Semoga perjuangan guru seperti Armani tak sia-sia. Pendidikan bukan hanya hak, tapi juga tanggung jawab bersama — agar anak-anak di pelosok pun punya harapan yang sama.[]










