OPINI

Relevansi Surat Al-‘Adiyat dalam Menghadapi Dinamika Zaman di Tahun 2025

Oleh : Ustadz Murtala, MA**

Pendahuluan

Surat Al-‘Adiyat (QS. 100), yang berarti “Kuda Perang yang Berlari Kencang,” adalah sebuah surat Makkiyah yang sarat dengan pesan mendalam tentang sifat dasar manusia, keagungan Allah, dan konsekuensi dari segala perbuatan. Meskipun diturunkan dalam konteks masyarakat Arab abad ke-7, tafsir dan pesan universalnya justru menemukan relevansi yang sangat tajam dalam kehidupan kita di tahun 2025. Dalam opini ini, kita akan menelaah tafsir surat Al-‘Adiyat dan menghubungkannya dengan tantangan kontemporer seperti percepatan teknologi, krisis moral, dan pencarian makna di era digital.

Tafsir Inti Surat Al-‘Adiyat

Surat ini dapat dibagi menjadi tiga bagian utama:

1. Sumpah Allah dengan Kuda Perang (Ayat 1-5): Allah bersumpah demi kuda perang yang berlari kencang, terengah-engah, dan menyalakan api (dengan gesekan kukunya) saat menyerang di waktu subuh. Sumpah dengan makhluk yang penuh daya dan gerak ini bukanlah hal sepele. Ia menggambarkan potensi energi, kekuatan, dan semangat (ghirah) yang dimiliki manusia. Kuda perang adalah simbol dari teknologi dan peradaban pada masanya—sebuah alat yang bisa digunakan untuk membela kebenaran atau, sebaliknya, untuk menebar kerusakan.
2. Peringatan tentang Sifat Buruk Manusia (Ayat 6-8): Ayat ini merupakan jantung dari surat. “Sesungguhnya manusia sangat ingkar (kufur) kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia menyaksikan (mengakui) hal itu (dengan perbuatannya), dan sesungguhnya dia sangat cinta kepada harta.”
· Kufur Nikmat: Sifat ingkar di sini bukan hanya ateisme, tetapi lebih pada pengingkaran terhadap nikmat Allah. Dalam tafsir modern, ini mencakup sikap tidak bersyukur dan menganggap segala pencapaian adalah murni hasil usaha diri sendiri.
· Cinta Harta yang Berlebihan: Kecintaan pada harta (al-mal) digambarkan secara hiperbolis. Ini adalah akar dari materialisme, di mana kesuksesan hanya diukur dari akumulasi kekayaan, sering kali mengabaikan etika dan tanggung jawab sosial.
3. Peringatan tentang Hari Pembalasan (Ayat 9-11): Bagian penutup ini mengingatkan bahwa pada hari ketika isi hati (qalb) dibongkar, manusia akan menyadari bahwa Tuhan mereka Maha Mengetahui apa yang mereka sembunyikan. Ini adalah peringatan tentang akuntabilitas mutlak di hadapan Allah, yang meruntuhkan segala kesombongan duniawi.

Koneksi dengan Kehidupan di Tahun 2025: Sebuah Refleksi Kontemporer

Dalam konteks tahun 2025, di mana dunia ditandai dengan disrupsi teknologi, ketidakpastian ekonomi, dan krisis identitas, Surat Al-‘Adiyat memberikan pandangan yang sangat relevan:

1. “Kuda Perang” Modern: Kecepatan Teknologi dan Disrupsi Digital.
Kuda perang yang berlari kencang dan terengah-engah adalah metafora sempurna untuk kehidupan di era digital 2025. Kita hidup dalam “perlombaan” yang tak henti: kecepatan internet, algoritma yang terus diperbarui, persaingan bisnis yang ketat, dan tekanan untuk selalu produktif. Teknologi seperti AI, bioteknologi, dan metaverse adalah “kuda perang” baru kita. Mereka memiliki potensi luar biasa untuk kebaikan (seperti memajukan ilmu kedokteran), tetapi juga bisa menjadi alat perusak jika diarahkan untuk eksploitasi, peperangan siber, atau menyebarkan misinformasi. Surat Al-‘Adiyat mengajak kita untuk berefleksi: Untuk apa kita menggunakan “kuda perang” teknologi kita? Apakah untuk kemaslahatan umat manusia atau justru untuk memuaskan keserakahan dan ambisi pribadi?
2. Kritik terhadap Materialisme dan Kapitalisme Liar.
Ayat 8, “…dan sesungguhnya dia sangat cinta kepada harta,” adalah gambaran akurat masyarakat 2025. Dalam ekonomi yang didorong oleh konsumerisme dan pertumbuhan tanpa henti, nilai seseorang sering kali direduksi menjadi angka di rekening bank atau jumlah aset. “Harta” di sini bisa diperluas mencakup social capital seperti jumlah pengikut (followers) dan likes, yang menjadi mata uang baru dalam validasi sosial. Kecintaan berlebihan pada “harta” dalam bentuk apa pun dapat membutakan kita dari ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, dan hubungan antar manusia yang tulus. Surat ini mengingatkan bahwa penyakit ini adalah bawaan manusia, dan di tahun 2025, penyakit itu telah berevolusi dalam bentuk yang lebih kompleks.
3. Krisis Rasa Syukur di Era Pencapaian Diri.
Sifat “ingkar” (kufur) manusia terhadap Tuhannya sangat terasa dalam narasi kesuksesan individualistik zaman now. Di tahun 2025, di mana budaya hustle culture dan “merajut kesuksesan sendiri” semakin menguat, mudah bagi seseorang untuk jatuh pada kesombongan intelektual dan pencapaian material. Kita lupa bahwa kecerdasan, kesehatan, peluang, dan ekosistem yang mendukung kesuksesan kita adalah anugerah (nikmat) dari Allah. Surat Al-‘Adiyat menampar kesadaran kita untuk kembali kepada sikap rendah hati (tawadhu’) dan senantiasa bersyukur.
4. Akuntabilitas di Dunia yang Semakin Transparan.
Peringatan tentang hari di mana “isi dada akan dibongkar” (Ayat 10) memiliki resonansi yang kuat di era digital. Saat ini, privasi kita hampir hilang. Data pribadi, opini, dan sejarah hidup dapat “dibongkar” kapan saja oleh algoritma atau kebocoran data. Ini adalah peringatan duniawi tentang konsep akuntabilitas. Setiap klik, setiap unggahan, dan setiap keputusan bisnis memiliki konsekuensi yang dapat dilacak. Surat Al-‘Adiyat mengangkat ini ke tingkat yang lebih tinggi: tidak ada yang tersembunyi di hadapan Allah. Prinsip ini harusnya menjadi panduan etika dalam beraktivitas, baik di dunia nyata maupun digital, pada tahun 2025 dan seterusnya.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Surat Al-‘Adiyat bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan sebuah diagnosi abadi tentang jiwa manusia dan peringatan yang terus bergema sepanjang zaman. Di tahun 2025, pesannya lebih penting dari sebelumnya:

· Sebagai Individu: Kita harus mengendalikan “kuda perang” ambisi dan teknologi kita, mengarahkannya untuk tujuan yang benar dan beretika. Kita perlu melatih diri untuk tidak terjebak dalam cinta harta dan pencitraan, serta senantiasa mengingat bahwa segala pencapaian adalah atas izin dan karunia Allah.
· Sebagai Masyarakat dan Pemimpin: Surat ini mendorong kita untuk membangun sistem ekonomi dan sosial yang tidak hanya mengejar pertumbuhan material, tetapi juga keadilan, keberlanjutan, dan spiritualitas. Kita memerlukan kepemimpinan yang menyadari sepenuhnya tanggung jawabnya di hadapan Allah dan manusia.

Dengan merenungkan tafsir Surat Al-‘Adiyat, kita dapat membekali diri dengan kerangka spiritual dan moral untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara bermakna di tengah arus deras zaman yang penuh tantangan di tahun 2025 dan masa depan.

**)Penulis: Ustadz Murtala,MA (Kepala Panti Asuhan Rahmania)

 

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts