JAKARTA – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI terus memperluas jangkauan intervensi sosialnya dengan membidik ketahanan rumah tangga kalangan mustahik. Melalui integrasi 13 Program Unggulan, lembaga pengelola zakat negara ini menggandeng organisasi kemasyarakatan Wanita Syarikat Islam (WSI) guna menciptakan keluarga prasejahtera yang berdaya, mandiri secara finansial, dan tangguh menghadapi dinamika sosial.
Komitmen strategis tersebut ditegaskan oleh Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid, saat memberikan arahan dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) WSI di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Sodik menerangkan bahwa penguatan unit keluarga memerlukan pendekatan holistis dan tidak bisa hanya bertumpu pada bantuan karitatif sesaat. Setidaknya terdapat tujuh pilar utama yang wajib ditopang secara berkesinambungan: penguatan spiritualitas dan peribadatan, keharmonisan relasi antaranggotanya, ketersediaan fasilitas dan infrastruktur dasar, kestabilan ekonomi, akses pendidikan bermutu, jaminan kesehatan dan sandang, serta kecukupan pangan bernutrisi.
“Menjawab tantangan multidimensi yang dihadapi rumah tangga saat ini, ketahanan keluarga adalah benteng utama. Fondasi inilah yang menentukan lahirnya generasi penerus yang berakhlak terpuji sekaligus memiliki daya saing tinggi menuju era Generasi Emas,” papar Sodik.
Kolaborasi Berbasis Program Nyata
Guna mengonversi pilar-pilar tersebut ke dalam aksi nyata di lapangan, Baznas membuka pintu kemitraan lebar-lebar dengan WSI. Sinergi ini dirancang fleksibel agar dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik di masing-masing daerah.
Sejumlah inisiatif produktif yang disiapkan antara lain mencakup:
Penguatan Finansial Mikro: Penyediaan modal usaha berbasis masjid dan majelis taklim untuk menggerakkan perekonomian ibu rumah tangga.
Kemandirian Pangan dan Agrobisnis: Optimalisasi program Balai Ternak dan Lumbung Pangan untuk menjamin rantai pasok nutrisi serta penghasilan rutin keluarga.
Fasilitas Dasar dan Sanitasi: Program Rumah Terang, penyediaan instalasi Air Bersih, serta pengembangan Bank Sampah demi lingkungan tempat tinggal yang layak.
Pendidikan dan Pendampingan Keagamaan: Revitalisasi sarana melalui inisiatif Madrasah dan Pesantren Nyaman Belajar serta pembinaan mualaf via Mualaf Center.
WSI sebagai Pintu Verifikasi Lapangan
Kemitraan strategis dengan organisasi perempuan seperti WSI dinilai memiliki keunggulan taktis, terutama dalam memetakan profil penerima manfaat secara akurat. Struktur kepengurusan WSI yang mengakar hingga tingkat cabang diyakini mampu menjaring data riil keluarga rentan yang selama ini belum terjangkau bantuan.
Sodik berharap kader-kader WSI di akar rumput dapat berperan aktif menjadi validator sekaligus pengusul nama-nama kepala keluarga maupun janda dhuafa yang layak memperoleh pendampingan zakat produktif. Melalui mekanisme seleksi dari bawah (bottom-up), alokasi dana zakat, infak, dan sedekah diharapkan kian tepat sasaran serta mampu mentransformasikan para penerima bantuan (mustahik) menjadi keluarga mandiri yang kelak berdaya menjadi pembayar zakat (muzaki).[]










