BREAKING

TEKNOLOGI

Google Tarik Fitur AI Google Earth Usai Ramai Disalahgunakan

Google menangguhkan fitur AI Nano Banana 2 di Google Earth karena risiko penyebaran disinformasi dan citra palsu.

SEANTERONEWS.com – Google resmi menarik kembali fitur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) pada layanan Google Earth, Nano Banana 2, setelah maraknya laporan penyalahgunaan alat tersebut untuk menciptakan citra menyesatkan. Keputusan ini diambil perusahaan untuk melakukan evaluasi mendalam dan menerapkan pagar pembatas (guardrails) yang lebih ketat terhadap teknologi generasi gambar tersebut.

Fitur Nano Banana 2 awalnya diperkenalkan sebagai alat inovatif untuk memvisualisasikan lokasi di masa lalu maupun masa depan melalui perintah teks (natural language prompts). Pengguna dapat meminta AI untuk merender tampilan kota kuno seperti Pompeii di tahun 78 Masehi, atau membayangkan proyek pembangunan gedung di lahan kosong.

Celaka di Balik Kreativitas

Namun, kemudahan tersebut justru disalahgunakan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Beberapa pengguna melaporkan bahwa mereka dengan mudah membuat citra palsu yang sangat meyakinkan, seperti menempatkan pengungsi di perbatasan negara, memposisikan fasilitas nuklir di lokasi sensitif, hingga rekayasa kecelakaan fatal di tengah kota. Karena citra tersebut menggunakan data satelit asli Google Earth sebagai latar belakang, hasil manipulasi AI ini terlihat sangat otentik dan berpotensi memicu kepanikan atau narasi disinformasi.

Nathaniel Raymond, Direktur Eksekutif Humanitarian Research Lab di Yale School of Public Health, menyoroti bahaya nyata dari teknologi ini. Melalui media sosial, ia memperingatkan bahwa Nano Banana 2 membuka pintu lebar bagi pemalsuan data satelit yang dapat merugikan pihak-pihak rentan di wilayah konflik.

Tanggapan Google

Menanggapi kritik tersebut, Google menyatakan bahwa meski gambar hasil kreasi AI telah diberi tanda air (watermark) digital SynthID dan tidak ditampilkan di antarmuka utama Google Earth, pihaknya mengakui potensi risiko penyalahgunaan yang ada.

“Kami telah melihat orang-orang membagikan tangkapan layar citra yang dihasilkan AI yang tampaknya melanggar kebijakan kami. Saat ini, kami menarik kembali fitur tersebut sembari bekerja untuk menerapkan perlindungan yang lebih kuat,” ungkap pihak Google melalui keterangan resminya.

Google juga menyarankan pengguna untuk selalu melakukan verifikasi terhadap citra yang mencurigakan dengan menggunakan aplikasi Gemini atau fitur Google Lens untuk mendeteksi apakah suatu gambar merupakan hasil olahan AI atau bukan. Namun, respons ini sempat mendapat catatan komunitas (Community Note) di media sosial X, yang menyebutkan bahwa tanda air SynthID tidak selalu ada pada semua gambar yang dihasilkan Nano Banana, sehingga verifikasi penuh menjadi lebih sulit dilakukan.

Pelajaran Penting bagi Industri AI

Insiden ini menjadi pengingat keras bagi raksasa teknologi mengenai tanggung jawab moral dalam merilis alat AI yang sangat kuat. Kasus Nano Banana 2 menunjukkan bahwa efektivitas tools untuk edukasi dan riset sejarah dapat dengan cepat beralih menjadi ancaman jika tidak disertai dengan sistem keamanan yang matang.

Google Earth kini menjadi standar utama bagi jurnalis, investigator, dan publik dalam memverifikasi data geografis. Dengan adanya alat pembuat citra berbasis AI, kredibilitas antarmuka yang selama ini dianggap “sumber kebenaran” tersebut kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga kepercayaan pengguna di tengah maraknya era disinformasi visual.[]

image_pdfimage_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts