JAKARTA – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), kembali menekankan bahwa dialog merupakan instrumen paling efektif dalam menyelesaikan pertikaian, baik di skala domestik maupun global. Menurutnya, mengedepankan pendekatan komunikasi yang inklusif jauh lebih berkelanjutan dibandingkan penyelesaian melalui konfrontasi bersenjata.
Pernyataan tersebut disampaikan JK saat memberikan pidato dalam peringatan 20 tahun Center for Dialogue and Cooperation Among Civilization (CDCC) di Hotel Ambhara, Jakarta, Jumat (24/7/2026). Di hadapan para hadirin, JK menegaskan bahwa tradisi musyawarah untuk mufakat sejatinya adalah bentuk nyata dari budaya dialog yang sudah mendarah daging dalam identitas bangsa Indonesia.
JK menjelaskan bahwa konflik, baik yang dipicu oleh perbedaan politik, ideologi, ekonomi, maupun sosial, selalu berakar pada perbedaan kepentingan. Dialog berfungsi sebagai mekanisme pencegahan agar ketegangan tidak bertransformasi menjadi kekerasan.
“Dialog bukan hanya soal bicara, tapi membangun saling pengertian. Ketika konflik sudah terjadi, dialog menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai win-win solution yang dapat diterima semua pihak tanpa rasa kalah,” tutur JK.
Ia menekankan bahwa kemenangan sepihak yang dicapai melalui peperangan tidak akan pernah menciptakan perdamaian yang abadi. Perdamaian yang berkelanjutan hanya bisa tumbuh di atas fondasi pemahaman mendalam terhadap kebutuhan masing-masing pihak yang bertikai.
Berdasarkan pengalamannya menjadi mediator dalam berbagai konflik besar di Indonesia, JK membeberkan fakta penting bahwa pemicu utama sebagian besar pertikaian adalah ketidakadilan. Dari 15 konflik besar di Indonesia, 10 di antaranya dipicu oleh ketimpangan distribusi pembangunan dan rasa ketidakadilan sosial-ekonomi.
Ia merujuk pada keberhasilan perdamaian Aceh sebagai contoh nyata. Menurutnya, konflik Aceh bukan sekadar isu identitas atau agama, melainkan persoalan ketimpangan ekonomi. “Dialog hanya bisa berjalan jika ada trust (kepercayaan). Jika kita memahami sumber ketidakadilan yang menjadi akar masalah, maka solusi damai bukanlah hal yang mustahil,” jelasnya.
Dalam pengalamannya menjadi mediator internasional, termasuk dalam upaya dialog dengan pihak Taliban di Doha, Qatar, JK memegang teguh prinsip bahwa komunikasi harus terus dibangun meski di tengah tantangan yang berat.
Menutup pidatonya, JK mengingatkan bahwa perdamaian bukan sekadar absennya konflik, melainkan hadirnya keadilan. Bangsa yang mampu menyelenggarakan keadilan bagi warganya akan lebih mudah menjaga stabilitas dan kemakmuran. Baginya, tugas utama pemimpin dan masyarakat adalah memastikan ruang dialog tetap terbuka, karena kedamaian yang berlandaskan keadilan adalah investasi paling berharga bagi masa depan peradaban.[]










