SEANTERONEWS.com – Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop), Farida Farichah, menekankan urgensi profesionalisasi tata kelola koperasi di lingkungan pondok pesantren sebagai motor kemandirian ekonomi. Hal tersebut ia sampaikan dalam kunjungan kerjanya ke Koperasi Konsumen Mathlaul Anwar, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (16/6/2026).
Farida menyoroti besarnya potensi jaringan pondok pesantren yang telah mengakar kuat di Indonesia. Menurutnya, kekuatan jaringan yang selama ini menjadi poros pendidikan dan sosial tersebut perlu diakselerasi ke sektor ekonomi melalui koperasi yang dikelola dengan standar profesional.
“Jaringan pesantren adalah jaringan yang paling kuat. Jika dikelola secara profesional, pesantren bisa menjadi mandiri dan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah atau donatur,” ujar Farida di hadapan para pengurus pesantren dan pelaku UMKM.
Dalam arahannya, Wamenkop menekankan pentingnya disiplin manajemen, khususnya pemisahan antara urusan sosial dan bisnis. Ia sering menemukan praktik di lapangan di mana hasil usaha koperasi digunakan langsung untuk operasional pesantren tanpa melalui perhitungan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang tepat.
“Harus dipisahkan antara kantong bisnis dan sosial. Ini bagian dari tata kelola profesional. Jangan sampai santri yang seharusnya fokus belajar malah dibebani urusan teknis bisnis yang bukan keahliannya,” tegasnya.
Untuk mendukung akselerasi ini, Kementerian Koperasi telah menyiapkan instrumen dukungan permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dengan suku bunga yang lebih kompetitif dibandingkan perbankan komersial. Namun, Farida menekankan bahwa koperasi pesantren harus meningkatkan kapasitas tata kelola agar mampu memenuhi syarat akses permodalan tersebut.
Selain aspek manajerial, Farida juga menyoroti pentingnya sertifikasi Dewan Pengawas Syariah (DPS) bagi koperasi berbasis syariah di pesantren. Ia menyatakan bahwa Kementerian Koperasi siap memfasilitasi pelatihan dan sertifikasi bagi pengurus koperasi agar memenuhi standar profesionalisme nasional maupun global.
Dengan profesionalisme yang mumpuni, Farida optimistis koperasi pesantren dapat saling terkoneksi dalam rantai pasok ekonomi nasional, mulai dari sektor pangan hingga jasa keuangan. “Pesantren yang mandiri, tidak bergantung pada pihak lain, adalah bentuk nyata dari perjuangan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara utuh,” pungkasnya.[]










