SEANTERONEWS.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons langsung keluhan para pelaku usaha Warung Tegal (warteg) terkait penurunan omzet harian akibat gejolak harga bahan pokok. Meski demikian, Purbaya mengingatkan agar penurunan pendapatan di tingkat pedagang eceran tersebut tidak serta-merta disimpulkan sebagai pelemahan daya beli masyarakat secara makro.
Purbaya menilai, lesunya penjualan di sejumlah warung makan bisa dipengaruhi oleh dinamika persaingan usaha yang ketat, bukan sekadar mencerminkan penurunan kapasitas belanja publik secara nasional.
“Penurunan omzet tersebut tentu bisa saja terjadi, namun kita harus melihat seberapa besar sampel warteg yang terdampak. Bisa jadi ada beberapa warung yang pendapatannya turun karena faktor kompetisi dengan tempat lain yang menawarkan inovasi lebih menarik sehingga pelanggan berpindah,” jelas Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Penjelasan Menkeu tersebut merespons keluhan dari Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni. Sebelumnya, Mukroni menguraikan bahwa para pemilik warteg kini berada dalam posisi sulit karena pelanggan mulai memperketat pengeluaran harian mereka.
Meskipun tingkat kunjungan fisik pelanggan relatif stabil, Mukroni mendapati adanya penurunan nominal transaksi per kepala. Banyak konsumen yang mulai membatasi porsi belanja makanan mereka demi menjaga pengeluaran tetap hemat.
“Terjadi pergeseran pilihan lauk di kalangan pelanggan. Konsumen yang biasanya memilih protein hewani kini beralih ke menu protein nabati yang lebih ekonomis, seperti tahu, tempe, atau telur. Istilahnya ada downgrading lauk agar mereka tetap bisa makan kenyang dengan anggaran di bawah Rp15.000 sekali makan,” papar Mukroni.
Ia menambahkan, tekanan ekonomi ini sejatinya telah dirasakan para pelaku usaha mikro sejak awal tahun seiring inflasi bahan pangan yang fluktuatif. Kondisi ini kian menantang karena masyarakat harus mengalokasikan anggaran sisa untuk kebutuhan pokok lainnya yang tidak kalah mendesak.
Menkeu Purbaya meminta semua pihak untuk objektif dalam membaca situasi ekonomi dengan merujuk pada data agregat pemerintah. Berdasarkan indikator makro, tingkat konsumsi rumah tangga dan aktivitas belanja masyarakat secara keseluruhan saat ini masih menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
“Kita harus cermat. Asosiasi tentu menyuarakan kepentingan para anggotanya, yang mana itu sangat wajar. Namun, jika mengacu pada data agregat nasional, aktivitas belanja masyarakat masih tumbuh dengan cukup kuat,” terangnya.
Kendati meragukan penurunan omzet warteg secara acak dapat mewakili gambaran ekonomi nasional secara umum, Purbaya berjanji bahwa pemerintah tidak akan mengabaikan keluhan tersebut. Kementerian Keuangan akan melakukan penelusuran lebih lanjut guna memetakan kondisi riil masyarakat di lapangan.
Ia pun menegaskan kesiapan fiskal pemerintah untuk mengintervensi pasar apabila hasil investigasi menunjukkan adanya kelompok masyarakat kelas bawah yang membutuhkan bantuan tambahan.
“Saya akan segera memeriksa masalah ini. Kami tidak ingin menarik kesimpulan besar hanya berdasarkan satu atau dua laporan sektoral. Kami akan lakukan investigasi mendalam, dan jika memang diperlukan, pemerintah siap meluncurkan stimulus perekonomian tambahan untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat,” pungkas Purbaya.[]










