SEANTERONEWS.com – Langkah Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono yang mendatangi kediaman mantan Presiden Joko Widodo di Solo pada Jumat (9/5/2026) memicu kegaduhan di panggung politik nasional. Pertemuan tersebut menjadi sorotan tajam bukan hanya karena materinya, melainkan penggunaan diksi “melaporkan” yang dianggap tidak lazim bagi seorang pejabat aktif kabinet pimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Wartawan senior sekaligus pengamat politik, Hersubeno Arief, menilai tindakan tersebut sebagai anomali birokrasi yang sarat akan makna politis.
Hersubeno Arief menyoroti penggunaan istilah “melapor” yang secara konsisten muncul dalam berbagai pemberitaan resmi terkait pertemuan tersebut. Menurutnya, dalam tata krama pemerintahan, seorang menteri atau wakil menteri seharusnya memberikan laporan kinerja kepada presiden yang sedang menjabat, bukan kepada pendahulu.
“Jujur saya sempat tertegun membaca laporan tersebut. Pertama adalah kalimat melaporkan. Ini yang menurut saya aneh, kok melaporkannya ke Solo, bukan ke Presiden Prabowo,” ungkap Hersubeno melalui kanal YouTube pribadinya, Minggu (10/5/2026). Ia menegaskan bahwa diksi “melapor” secara implisit menunjukkan pengakuan posisi atasan dan bawahan yang masih melekat kuat antara Sudaryono dan Jokowi.
Kehadiran Sudaryono di Solo menciptakan tafsir politik baru mengenai sejauh mana keterlibatan Jokowi dalam jalannya pemerintahan saat ini. Mengingat Sudaryono adalah figur sentral dari “lingkaran Hambalang” dan orang dekat Prabowo, langkahnya memberikan laporan swasembada pangan ke Solo dianggap memperkuat dugaan bahwa pengaruh Jokowi masih sangat besar.
Fenomena ini dipandang oleh para pengamat sebagai indikator bahwa transisi kekuasaan mungkin tidak sepenuhnya memindahkan kendali politik secara mutlak ke tangan Prabowo Subianto.
Di sisi lain, Sudaryono memberikan klarifikasi untuk meredam spekulasi yang berkembang. Ia menyatakan bahwa kunjungannya merupakan bentuk silaturahmi sekaligus upaya menjaga kesinambungan program antar-pemerintahan.
Menurut Sudaryono, menjaga sinergi dengan Jokowi adalah hal yang krusial karena:
Pengalaman Strategis: Pandangan Jokowi dianggap masih sangat relevan sebagai bekal menjalankan program pangan nasional.
Optimasi Program: Sinergi lintas periode pemerintahan diperlukan agar program pembangunan memberikan manfaat nyata bagi rakyat tanpa terputus oleh pergantian kepemimpinan.
Komitmen Prabowo: Sudaryono menegaskan bahwa Presiden Prabowo sendiri sering menekankan pentingnya keberlanjutan dari fondasi yang telah dibangun oleh pemerintahan sebelumnya.
Meski diklaim sebagai bentuk kesinambungan, bagi banyak pihak, langkah “melapor ke Solo” ini tetap menjadi catatan tebal dalam dinamika politik Kabinet Merah Putih di tahun 2026.[]









