SEANTERONEWS.com – Dalam upaya memperkuat perlindungan satwa yang berstatus terancam punah, Kementerian Kehutanan melakukan langkah inovatif. Untuk pertama kalinya, teknologi drone thermal atau pemindai suhu udara resmi diterapkan untuk memantau pergerakan kawanan Gajah Sumatera liar di kawasan Bentang Alam Seblat, Provinsi Bengkulu.
Operasi pemantauan canggih ini dieksekusi langsung oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu bersama tim konservasi setempat. Penggunaan teknologi ini dinilai sebagai lompatan besar karena memungkinkan petugas mendeteksi satwa berdasarkan pancaran suhu tubuh mamalia tersebut, bahkan di area hutan lebat yang sulit ditembus melalui jalur darat.
Metode pemantauan via udara ini terbukti sangat efektif. Berdasarkan hasil pemantauan udara terbaru, tim konservasi berhasil mengidentifikasi dan memetakan satu kelompok gajah liar yang terdiri dari 17 ekor meliputi: 4 ekor anak gajah (anakan) dan 13 ekor gajah fase remaja hingga dewasa.
Kehadiran empat anak gajah ini menjadi sinyal positif yang menunjukkan bahwa proses reproduksi dan regenerasi populasi Gajah Sumatera di habitat alami Bentang Alam Seblat masih berjalan dengan baik.
Kepala BKSDA Bengkulu, Agung Nugroho, menjelaskan bahwa penggunaan drone thermal sangat membantu tim di lapangan karena tidak memberikan tekanan stres pada satwa.
“Dari hasil pemantauan ini, kita dapat mengetahui secara langsung keberadaan kelompok gajah beserta struktur populasinya tanpa memberikan gangguan yang signifikan. Ini menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Bengkulu dalam memperkuat perlindungan,” terang Agung Nugroho dalam siaran pers resmi, Senin (11/5/2026).
Peningkatan pengawasan di Bentang Alam Seblat bukan tanpa alasan. Langkah preventif ini diperketat menyusul insiden tragis penemuan dua ekor gajah liar yang mati di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, pada akhir April 2026 lalu.
Peristiwa tersebut menjadi peringatan keras bahwa ancaman terhadap habitat gajah masih sangat nyata. Beberapa faktor risiko yang terus membayangi kelangsungan hidup Gajah Sumatera di antaranya:
Konflik ruang antara manusia dan satwa liar.
Penyusutan dan kerusakan habitat alami.
Ancaman aktivitas perambahan dan pembalakan liar di kawasan hutan.
Sebagai koridor ekologi yang esensial, Bentang Alam Seblat merupakan jalur pergerakan alami bagi berbagai kelompok gajah yang melintasi kawasan hutan Bengkulu Utara dan sekitarnya.
Selain melacak keberadaan fisik, teknologi drone thermal ini juga dimanfaatkan untuk mengumpulkan basis data krusial terkait pola pergerakan dan daya dukung habitat. Agung Nugroho menegaskan bahwa kegiatan patroli udara ini akan terus diagendakan secara rutin. Namun, ia mengingatkan bahwa pelestarian ekosistem tidak bisa dipikul oleh pemerintah sendirian.
“Kami berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menjaga habitat Gajah Sumatera. Keberadaan satwa ini merupakan bagian penting dari keseimbangan ekosistem hutan yang harus kita wariskan dan jaga bersama,” pungkasnya.[]









