BREAKING

OPINI

Kopi, Puisi, dan Sepi: Balada Merenung di Lantai

Pernah duduk di lantai meratapi sunyi sambil menyeruput kopi? Artikel jenaka ini mengupas tuntas korelasi kocak antara sepi, kopi, dan puisi ala anak indie.

Oleh: [Nazier}

SEANTERONEWS.com – Pernahkah Anda menemukan diri Anda tiba-tiba duduk lesehan di lantai ubin mengabaikan sofa empuk yang padahal dibeli dengan cicilan hanya untuk berandai-andai soal kehidupan? Muncul sebaris monolog dramatis di kepala: “Andai saja tak ada sepi, andai saja tak ada sunyi, aku barangkali tak suka kopi, aku barangkali tak suka puisi. Yaah… barangkali.”

Pernyataan puitis nan ngenes ini sebenarnya adalah potret akurat dari fenomena psikologis dan gaya hidup yang menjangkiti banyak dari kita. Mari kita bedah fenomena “si paling sepi” ini dengan kacamata realitas yang dibalut sedikit tawa.

Misteri Ubin Dingin dan Overthinking

Secara logis, kasur atau kursi ergonomis tentu jauh lebih nyaman untuk pantat kita. Tapi, kesepian tampaknya punya SOP (Standar Operasional Prosedur) sendiri.

Duduk memeluk lutut di lantai memberikan ilusi bahwa hidup kita sedang grounded alias membumi, padahal kenyataannya kita hanya sedang kehabisan ide mau melakukan apa. Gaya gravitasi seolah menarik semua beban hidup ke bawah, membuat momen melamun terasa jauh lebih dramatis, estetik, dan layak dijadikan materi Instastory.

Kausalitas Lucu: Sepi, Kopi, dan Sastra

Mari kita luruskan sebuah miskonsepsi: Anda tidak harus sedang patah hati atau kesepian untuk bisa menikmati secangkir kopi. Namun, kita tidak bisa memungkiri ada korelasi yang sangat “anak indie” di antara ketiganya:

Kopi sebagai Pelarian Otentik: Kalau hidup ini isinya selalu pesta pora bak taman hiburan, kita mungkin lebih memilih es sirop melon atau boba gula aren. Kopi hitam (terutama yang tanpa gula) sering kali dipilih sebagai metafora kehidupan yang pahit. Sebuah cara elegan untuk menutupi fakta bahwa lambung sebenarnya sedang menangis diam-diam.

Puisi sebagai Pelampiasan: Saat Anda bahagia, sibuk, dan dikelilingi teman-teman, Anda mungkin hanya akan mengirimkan meme kucing lucu atau video Tiktok receh. Tapi ketika sunyi menyergap? Tiba-tiba kosakata Anda berubah drastis. Kata-kata seperti “sendu”, “fana”, “luka”, dan “derai” keluar secara otomatis. Puisi sering kali adalah hasil dari otak yang terlalu lama tidak diajak ngobrol oleh orang lain.

Realitas Sang “Barangkali”

Kata “barangkali” di akhir monolog tersebut adalah bentuk penyangkalan diri yang sangat menggemaskan. Barangkali kita tak suka kopi jika hidup tak sunyi. Atau… barangkali, pada dasarnya kita memang doyan asupan kafein dan punya bakat terpendam menjadi anak sastra, tapi menjadikan kesepian sebagai kambing hitam agar terlihat lebih keren.

Jadi, tidak perlu terlalu diratapi. Jika suatu malam rintik hujan turun, secangkir kopi sudah diseduh, dan bait puisi sudah mulai dirangkai dari atas ubin kamar, nikmati saja peran Anda sebagai pemeran utama di film indie garapan Anda sendiri.

Hanya saja, ada satu saran praktis yang perlu diingat: pastikan lantainya sudah disapu terlebih dahulu. Masuk angin parah karena kelamaan merenung di ubin dingin itu sama sekali tidak puitis!

author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts