SEANTERONEWS.com – Wakil Menteri Agama (Wamenag), Romo Muhammad Syafi’i, memberikan pesan mendalam mengenai integritas dan spiritualitas bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Ia mengingatkan bahwa ujian hidup tidak hanya datang dalam bentuk kesulitan, namun keberhasilan, jabatan, dan kenyamanan seringkali menjadi ujian yang lebih berat bagi konsistensi iman seseorang.
Sentilan halus tersebut disampaikan dalam acara Majelis Mujahadah Inspektorat Jenderal (MMI) yang digelar pada Kamis malam, 30 April 2026. Romo Syafi’i menyoroti fenomena di mana seseorang cenderung khusyuk saat tertimpa masalah, namun mendadak lalai ketika urusan berjalan mulus.
“Tidak sedikit yang tetap taat saat susah, tetapi lalai ketika diberi kemudahan. Karena itu, kita harus menjaga fitrah pengabdian kepada Allah,” tegas Romo Syafi’i sebagaimana dilansir dari laman resmi Kemenag.
Di hadapan ratusan pegawai dan auditor, Wamenag mengajak ASN untuk merevolusi cara pandang terhadap pekerjaan. Baginya, tugas birokrasi bukan sekadar rutinitas mencari nafkah, melainkan bentuk ibadah total.
Mengulas kandungan Surah At-Taubah ayat 111, ia menjelaskan konsep Allah yang “membeli” diri dan harta orang beriman dengan balasan surga. Hal ini mengandung pesan bahwa penggunaan kebebasan, kekuasaan, dan amanah tidak boleh dilakukan semau sendiri, melainkan harus mengikuti kehendak Allah SWT.
“Ketika kita ‘menjual’ diri kepada Allah, maka jabatan, harta, dan kebebasan tidak lagi kita gunakan semau sendiri,” ujarnya. Manusia memang diberi kebebasan memilih, namun pilihan itulah yang menjadi tolok ukur apakah seseorang mengikuti jalan Tuhan atau hawa nafsu.
Tausiah yang digelar secara daring tersebut berlangsung khidmat, terutama saat Wamenag mengutip hadis tentang kerinduan Rasulullah SAW kepada umatnya yang hidup di akhir zaman. Yaitu mereka yang tetap teguh menjalankan ajaran agama meski tidak pernah melihat wajah Rasul dan hidup di tengah godaan zaman yang besar.
“Mudah-mudahan kita termasuk umat yang dirindukan Rasulullah SAW,” ucap Wamenag penuh harap.
Menutup rangkaian acara, Sekretaris Inspektorat Jenderal, Khoirul Huda Basyir, menekankan pentingnya kegiatan spiritual sebagai “bahan bakar” mental. Dengan tema “Mujahadah untuk Pengokoh Integritas”, diharapkan para pegawai Kemenag, khususnya di sektor pengawasan, tetap istikamah menjalankan kejujuran meski berada di zona nyaman.
Pesan ini menjadi pengingat bagi setiap individu: apakah posisi dan kenyamanan saat ini membuat kita semakin bersujud, atau justru membuat kita mulai menjauh dari nilai-nilai ketuhanan?.[]










