Xbox tengah merombak arah bisnisnya demi menavigasi era baru industri game yang kian kompetitif. CEO Xbox Asha Sharma dan Chief Content Officer Matt Booty mengungkapkan rencana induk (master plan) baru yang menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan perusahaan terhadap konten dan perangkat keras.
Poin utama dari strategi ini adalah evaluasi ulang terhadap model bisnis yang selama ini dianut, termasuk kebijakan eksklusivitas game, strategi perilisan (windowing), hingga integrasi kecerdasan buatan (AI).
Manajemen Xbox secara terbuka mengakui adanya penurunan kualitas pengalaman bermain bagi pengguna. Dalam memo tersebut, Sharma dan Booty menyebutkan bahwa para pemain merasa frustrasi dengan berbagai masalah, mulai dari fitur konsol yang jarang diperbarui, kehadiran Xbox di PC yang belum optimal, hingga harga yang semakin sulit dijangkau.
“Model yang membawa kita ke posisi saat ini bukanlah model yang akan membawa kita maju ke depan,” tulis keduanya. Mereka juga menyoroti fragmentasi dalam pengalaman inti, seperti fitur pencarian, penemuan game, aspek sosial, dan personalisasi.
Dalam langkah yang cukup progresif, Xbox menyatakan akan mengubah tolok ukur kesuksesan mereka. Fokus utama perusahaan tidak lagi sekadar pada pendapatan atau jumlah pelanggan Xbox Game Pass, melainkan pada “daily active players” atau jumlah pemain aktif harian.
Xbox berkomitmen untuk “memperbaiki fundamental” bagi pemain dan mitra pengembang. Perusahaan menyadari tantangan besar dari kompetitor dan kebangkitan studio-studio game kecil yang kini mampu menghasilkan hit besar secara global.
Di tengah kekhawatiran mengenai harga konsol generasi berikutnya, Xbox menegaskan komitmennya untuk membuat perangkat yang “terjangkau, personal, dan terbuka.”
Meskipun industri game diprediksi menghadapi kendala pasokan memori hingga tahun 2030, Xbox tetap melangkah maju dengan proyek konsol generasi masa depan berkode Project Helix. Konsol ini diperkirakan akan meluncur pada tahun 2027 atau 2028.
Untuk menyiasati tantangan ekonomi, Xbox menjanjikan model harga yang lebih fleksibel, memastikan para pemain dapat dengan mudah memulai dan terus menikmati permainan.
Perubahan strategi ini menyusul kontroversi kebijakan Xbox pada 2024, di mana perusahaan mulai merilis game-game eksklusifnya ke platform kompetitor, seperti PlayStation 5.
Meskipun langkah tersebut dikritik karena dianggap menurunkan nilai jual konsol Xbox, manajemen kini menegaskan bahwa mereka sedang dalam proses pembelajaran untuk menemukan keseimbangan yang tepat di pasar gaming global yang terus berubah.










