Bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Selasa (21/4/2026), Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) menegaskan komitmen serius dalam menekan angka kematian ibu (AKI) melalui penguatan deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi. Langkah ini menjadi strategi krusial mengingat preeklamsia masih menjadi salah satu ancaman utama kesehatan ibu hamil di Indonesia.
Dalam kegiatan Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang berlangsung di Auditorium Siwabessy, Jakarta, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, memaparkan target ambisius pemerintah untuk lima tahun ke depan.
“Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari posisi saat ini di angka 140 per 100.000 kelahiran hidup, kita harus mencapai 40 dalam lima tahun ke depan,” tegas Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Preeklamsia: Ancaman Nyata yang Harus Diwaspadai
Data menunjukkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Preeklamsia dan eklamsia menyumbang sekitar 25 persen dari total kasus kematian ibu, menjadikannya penyebab kematian terbesar kedua setelah perdarahan.
Sebagai refleksi historis, Iim Fahima Jachya, Founder dan CEO Queenrides, mengingatkan kembali bahwa Raden Ajeng Kartini meninggal dunia karena komplikasi preeklamsia. “Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi isu sistem dan teknologi yang harus terus diperbaiki untuk melindungi masa depan ibu hamil,” ujarnya.
Inovasi Berbasis AI dan IoMT
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenkes RI berkolaborasi dengan mitra strategis seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute mengintegrasikan teknologi Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI) ke dalam sistem deteksi dini.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa inovasi ini mencakup peningkatan akurasi skrining.
“Kami menambahkan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik. Hasil awal menunjukkan tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan metode ini bisa menjadi enam kasus,” ungkap Maria.
Pemerataan Akses Kesehatan
Kemenkes menyadari bahwa teknologi canggih tidak boleh hanya terkonsentrasi di kota besar. Sejak tahun 2022, pemerintah telah mendistribusikan perangkat USG ke 10.000 puskesmas di seluruh penjuru Indonesia.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap ibu hamil, di mana pun mereka berada, mendapatkan akses yang sama terhadap layanan deteksi dini yang berkualitas. Pemerataan ini diharapkan menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem kesehatan ibu yang lebih tangguh dan responsif, sekaligus menghormati warisan perjuangan Kartini dalam memajukan perempuan Indonesia.[]










