JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi robotik di dunia medis kian pesat. Teknologi ini terbukti mampu membantu tenaga medis melakukan operasi dengan tingkat presisi yang lebih tinggi. Kendati demikian, mampukah AI sepenuhnya menggantikan peran seorang dokter?
Ketua Komite Nasional Teknologi Robotik Bidang Kesehatan, Ir. Agus Tjahajana Wirakusumah, S.E, M.Sc, IPU, menegaskan bahwa robot maupun AI tidak dirancang untuk mengambil alih seluruh fungsi kedokteran.
Peran Teknologi Robotik dalam Operasi Medis
Menurut Agus, dalam dunia kesehatan, robot tidak selalu berupa mesin mandiri yang dapat bergerak sendiri, melainkan instrumen pembantu dokter. Salah satu contoh utamanya adalah penerapan teknik minimal invasif dalam pembedahan.
Minim Sayatan: Alih-alih melakukan bedah terbuka (open surgery) yang memerlukan sayatan besar, teknologi robotik memungkinkan dokter memasukkan kamera dan instrumen bedah melalui beberapa lubang sayatan kecil saja.
Lebih Presisi: Tindakan ini membuat proses pemulihan pasien lebih cepat dan meminimalkan trauma jaringan.
Batasan AI dan Keputusan Akhir di Tangan Dokter
Meskipun AI dapat mengumpulkan, memproses, dan membandingkan data rekam medis berbasis cloud untuk memberikan rekomendasi penanganan, tingkat kepastian statistik dari sistem tersebut umumnya berada di kisaran 80 hingga 90 persen.
Oleh karena itu, faktor manusia—yakni keahlian, pengalaman, dan penilaian klinis spesialis—tetap tidak tergantikan karena setiap pasien memiliki kondisi tubuh yang unik.
“Alat itu hanya bisa dipakai pertama mempercepat, membuat lebih teliti, dan membuat kepastian yang lebih bisa diukur, tapi mengatakan yes or no dan menentukan serta keamanan dan sebagainya itu adalah para spesialis itu,” ujar Agus dalam diskusi
Dengan demikian, AI dan teknologi robotik berkedudukan sebagai alat pendukung (tools) yang mempercepat dan meningkatkan akurasi tindakan, sementara keputusan final serta keselamatan pasien tetap sepenuhnya berada di tangan dokter.










