WISATA

Bunga Bangkai Mekar Sempurna, Turis Mancanegara Serbu Agam

Bunga Bangkai raksasa mekar sempurna di Palupuh, Agam. Temukan detail fenomena langka yang menarik wisatawan Rusia hingga Prancis ini.

Fenomena alam langka kembali tersaji di pedalaman Sumatera Barat. Bunga Bangkai raksasa jenis Amorphophallus titanum dilaporkan mekar sempurna di kawasan Koto Rantang, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Kejadian ini sontak memicu gelombang kedatangan wisatawan, termasuk pelancong mancanegara yang antusias menyaksikan momen singkat tumbuhan dilindungi tersebut.

Bunga raksasa ini tumbuh subur di lahan perkebunan milik warga di Batang Palupuh, sebuah wilayah yang memang dikenal sebagai salah satu habitat alami terbaik bagi spesies ikonik ini di dunia.

Magnet Bagi Wisatawan Internasional

Pegiat wisata setempat, Joni Hartono, mengonfirmasi bahwa bunga tersebut saat ini berada dalam fase mekar paling optimal. Namun, ia mengingatkan bahwa keindahan purba ini hanya akan bertahan selama dua hingga tiga hari sebelum akhirnya layu dan membusuk.

“Masa mekar yang sangat singkat inilah yang membuatnya begitu spesial. Dalam beberapa hari terakhir saja, belasan wisatawan dari Malaysia, Rusia, hingga Prancis sudah tiba di lokasi untuk melihat langsung,” ujar Joni.

Tren kunjungan ini bukan yang pertama kali. Sebelumnya, mekarnya bunga serupa di kawasan Padang Hijau juga menarik minat turis asal Inggris, Amerika Serikat, Ceko, hingga Slovenia. Sinergi antara pengelola penginapan dan biro perjalanan di Sumatera Barat diakui menjadi kunci meningkatnya promosi wisata minat khusus ini ke level internasional.

Raksasa yang Mengeluarkan Panas

Amorphophallus titanum bukan sekadar bunga biasa. Spesies ini merupakan salah satu bunga terbesar di dunia dengan ketinggian yang bisa melampaui dua meter. Secara struktur, bunga ini memiliki tongkol besar (spadiks) di bagian tengah yang dikelilingi oleh seludang merah keunguan (spata) yang megah.

Keunikan lain yang memikat para peneliti adalah:

Aroma Khas: Mengeluarkan bau menyerupai daging busuk untuk menarik serangga penyerbuk.

Termogenesis: Bunga ini mampu menghasilkan panas sendiri saat mekar, sebuah mekanisme alami untuk menyebarkan aroma busuk lebih jauh ke udara.

Siklus Misterius: Memerlukan waktu 3 hingga 5 tahun untuk mengumpulkan energi sebelum akhirnya mekar dalam durasi yang sangat singkat.

Status Perlindungan Ketat

Mengingat kelangkaannya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat memberikan atensi khusus. Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau, Ade Putra, menegaskan bahwa Amorphophallus titanum adalah tumbuhan yang dilindungi secara hukum.

Perlindungan ini tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 yang telah diperbarui melalui UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Statusnya dilindungi undang-undang. Artinya, dilarang keras merusak, mengambil, atau memindahkan bunga ini dari habitat aslinya. Kelestarian habitat di Palupuh harus dijaga bersama agar siklus hidup bunga ini tidak terputus di masa depan,” tegas Ade.

Peristiwa di Agam ini membuktikan bahwa kekayaan hayati Indonesia memiliki daya tawar tinggi di mata dunia. Pengelolaan yang berbasis konservasi diharapkan mampu menyelaraskan potensi ekonomi dari sektor pariwisata dengan kewajiban menjaga warisan alam agar tetap lestari.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts