Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan mulai mematangkan rencana kolaborasi internasional dalam upaya pelestarian situs warisan dunia. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menerima kunjungan tim ahli dari Archaeological Survey of India (ASI) di Senayan, Jakarta, Rabu (18/3/2026), untuk membahas kelanjutan konservasi teknis di kompleks Candi Prambanan.
Pertemuan strategis ini menjadi tindak lanjut dari kunjungan lapangan awal yang dilakukan tim ASI di kawasan Prambanan. Lembaga arkeologi tertua di India tersebut menawarkan keahlian teknisnya yang telah teruji di berbagai situs dunia, seperti Kamboja dan Vietnam, untuk membantu memulihkan candi-candi perwara yang masih membutuhkan penanganan serius.
Metode Anastylosis dan Tantangan Rekonstruksi
Dalam paparannya, ADG Conservation and World Heritage ASI, Janhwij Sharma, mengusulkan penerapan metode anastylosis. Metode ini menitikberatkan pada pemanfaatan kembali batu-batu asli yang ditemukan di lokasi situs untuk merekonstruksi struktur candi.
“Melalui metode ini, struktur candi dapat direkonstruksi dengan material asli yang dominan. Penambahan material baru hanya dilakukan dalam porsi sangat terbatas untuk memperkuat aspek struktural,” jelas Sharma.
Namun, tim ASI mengidentifikasi tantangan besar berupa ribuan elemen batu arsitektur yang tersebar tidak beraturan di area situs. Kondisi ini memerlukan proses dokumentasi digital dan pengelompokan tipologi batu yang sangat cermat. Sebagai langkah awal, ASI mengusulkan sebuah proyek percontohan (pilot project) pada satu atau dua candi perwara untuk menentukan standar efektivitas kerja sebelum dilakukan pemugaran skala besar.
Menjaga Ekosistem Budaya yang Luas
Menanggapi usulan tersebut, Menbud Fadli Zon memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi internasional ASI. Ia menekankan bahwa konservasi Prambanan tidak boleh dilihat sebagai proyek bangunan tunggal, melainkan sebagai bagian dari satu kesatuan lanskap budaya yang mencakup Candi Sewu dan Candi Plaosan.
“Kompleks Prambanan merupakan bagian dari ekosistem sejarah yang menunjukkan akulturasi tradisi Hindu dan Buddha di Nusantara. Upaya kita bukan hanya memulihkan fisik bangunan, tetapi menjaga integritas keseluruhan ekosistem budaya tersebut,” tegas Fadli Zon.
Integrasi Teknologi dan Diplomasi Kebudayaan
Dalam mempercepat proses identifikasi ribuan bongkahan batu candi yang berserakan, Fadli Zon membuka peluang penggunaan teknologi mutakhir. Ia menyebut pendekatan digital dan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi solusi modern untuk membantu para arkeolog menyusun kembali komponen batu secara presisi.
Pertemuan yang turut dihadiri oleh Duta Besar India, Sandeep Chakravorty, dan jajaran pejabat eselon I Kementerian Kebudayaan ini diharapkan segera berlanjut ke tahap penyusunan dokumen teknis resmi. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mempercepat pemugaran fisik warisan dunia di tanah air, tetapi juga mempererat hubungan diplomatik dan kebudayaan antara Indonesia dan India.











