JAKARTA – Riuh rendah aktivitas belanja menjelang Hari Raya Idulfitri bukan sekadar fenomena ekonomi, melainkan tradisi tahunan yang telah mengakar kuat di kawasan Asia Tenggara. Menariknya, antusiasme ini tidak hanya mendominasi pasar domestik Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada era 1990-an, Jakarta pernah menjadi “magnet” utama bagi masyarakat Melayu Singapura untuk berburu kebutuhan Lebaran.
Fenomena lintas negara ini membuktikan bahwa pencarian kualitas dan harga terbaik mampu melampaui batas-batas administratif negara demi menyambut hari kemenangan dengan maksimal.
Destinasi Favorit: Dari Blok M hingga Tanah Abang
Pada masa kejayaannya di tahun 1990-an, Jakarta bersaing ketat dengan Johor Bahru sebagai destinasi belanja luar negeri bagi warga Singapura. Mengutip laporan surat kabar Berita Harian edisi 5 Maret 1993, paket perjalanan wisata belanja ke Jakarta menjadi komoditas laris yang ditawarkan biro perjalanan di Singapura.
Beberapa pusat perbelanjaan legendaris di Jakarta yang menjadi titik tumpu kunjungan mereka antara lain:
Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen: Untuk kebutuhan tekstil dan pakaian jadi.
Blok M dan Pasar Baru: Pusat mode dan pernak-pernik bergengsi pada masanya.
Mangga Dua dan Pasar Seni: Destinasi favorit untuk barang kerajinan dan dekorasi rumah.
Faktor Ekonomi: Selisih Harga hingga Tiga Kali Lipat
Motivasi utama di balik perjalanan lintas selat ini adalah kekuatan nilai tukar mata uang dan disparitas harga. Nirza A. Rahim, seorang warga Singapura yang diwawancarai kala itu, mengungkapkan bahwa harga kebutuhan rumah tangga seperti kasur dan pakaian di Jakarta bisa lebih murah tiga kali lipat dibandingkan di negaranya.
“Harga yang sangat terjangkau namun dengan kualitas yang tetap mumpuni menjadi alasan kami rela terbang ke Jakarta,” ungkapnya. Senada dengan itu, Salwah Mohd Din merasa Jakarta menawarkan variasi pilihan yang jauh lebih beragam dengan anggaran yang lebih hemat, memungkinkan mereka mendapatkan barang lebih banyak untuk kebutuhan perayaan di rumah.
Lebih dari Sekadar Transaksi
Aktivitas belanja ini sejatinya merupakan manifestasi dari keinginan untuk tampil terbaik di hari yang suci. Memperbarui pakaian, mengganti perabot rumah, hingga menghias sudut ruangan dengan ornamen baru telah menjadi budaya yang menyatukan masyarakat Melayu di nusantara.
Bagi warga Singapura kala itu, menghabiskan sebagian masa Ramadan di Jakarta bukan hanya soal transaksi, melainkan pengalaman spiritual dan sosial yang unik. Kehadiran mereka di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta turut menggerakkan roda ekonomi lokal dan mempererat ikatan kultural antarwarga di kedua negara.
Meskipun zaman telah berubah dan teknologi belanja daring semakin mendominasi, memori tentang “wisata belanja Lebaran” ke Jakarta tetap menjadi catatan menarik dalam sejarah hubungan sosial-ekonomi masyarakat Melayu di regional ini.










