SPORT

Calvin Verdonk: Pionir Indonesia di Kasta Tertinggi Liga Prancis

Simak catatan sejarah Calvin Verdonk bersama Lille di Liga Prancis. Jadi pemain Indonesia pertama di Ligue 1, begini statistiknya musim 2025-2026.

Panggung sepak bola elite Eropa, khususnya Ligue 1 Prancis, kini tidak lagi asing bagi talenta Asia Tenggara. Pada musim 2025-2026, sorotan tertuju pada bek sayap Timnas Indonesia, Calvin Verdonk, yang mencatatkan sejarah besar sebagai pemain Merah Putih pertama yang merumput di kasta tertinggi kompetisi negeri pimpinan Emmanuel Macron tersebut.

Bergabungnya Verdonk dengan LOSC Lille tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga menempatkan Indonesia dalam peta persaingan pemain ASEAN di Prancis bersama talenta muda Thailand, Erawan Garnier.

Verdonk didatangkan Lille dari klub kasta utama Belanda, NEC Nijmegen, pada awal musim ini dengan mahar mencapai 3 juta euro (sekitar Rp57 miliar). Meski berstatus pendatang baru, pemain yang memiliki garis keturunan Aceh ini menunjukkan progres adaptasi yang impresif di bawah asuhan pelatih Bruno Genesio.

Walaupun harus bersaing ketat dengan Romain Perraud di posisi bek kiri, Verdonk telah membuktikan kapasitasnya sebagai pemain rotasi yang bisa diandalkan. Hingga pertengahan musim, ia tercatat telah mengoleksi 11 penampilan di Ligue 1 dan tampil sebanyak 7 kali di ajang Liga Europa. Menembus skuat utama klub sebesar Lille yang rutin berkompetisi di panggung Eropa bukanlah perkara mudah, namun Verdonk berhasil menjawab kepercayaan tersebut.

“Target saya adalah berkembang sebagai pemain dan pribadi. Tentu saja, memenangkan trofi bersama klub ini adalah impian yang ingin saya wujudkan,” ujar Verdonk mengenai ambisinya bersama klub berjuluk Les Dogues tersebut.

Di sisi lain, representasi ASEAN lainnya, Erawan Garnier, mengalami nasib yang cukup berbeda di RC Lens. Pemain sayap kanan berusia 20 tahun asal Thailand ini didatangkan dari sistem akademi Olympique Lyon pada awal musim 2025-2026.

Sayangnya, hingga saat ini, Erawan masih kesulitan menembus tim utama Lens. Ia belum mencatatkan satu pun menit bermain di laga resmi Ligue 1 musim ini. Tak hanya di level klub, posisinya di Timnas Thailand pun masih tertahan di level U-23, kontras dengan Verdonk yang sudah menjadi pilar inti di Timnas Indonesia senior.

Eksistensi Verdonk di Lille menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda tanah air. Keberaniannya keluar dari zona nyaman di Belanda untuk menjajal fisik dan taktik Liga Prancis membuktikan bahwa pemain Indonesia memiliki daya saing untuk klub-klub papan atas Eropa.

Kehadiran Verdonk di kasta tertinggi Liga Prancis diharapkan menjadi pembuka jalan bagi lebih banyak pemain Nusantara untuk menembus liga-liga top dunia di masa depan.[]

image_print
author avatar
Redaksi Editor
Seantero News

What's your reaction?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts