Banda Aceh – Revolusi Kecerdasan Buatan (AI) yang sedang melanda dunia ternyata membawa dampak yang tidak terduga bagi budaya kerja di Amerika Serikat. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa banyak perusahaan rintisan (startup) di Silicon Valley kini mulai mengadopsi budaya kerja ekstrem yang terinspirasi dari tren brutal di Cina, yakni budaya kerja “996”.
Tren ini memaksa para pengembang dan insinyur AI untuk bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam, selama 6 hari dalam seminggu, demi memenangkan perlombaan teknologi global yang kian sengit.
Apa Itu Budaya Kerja “996”?
Istilah “996” merupakan budaya kerja yang dipopulerkan oleh raksasa teknologi Cina. Dalam skema ini, batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan hampir tidak ada.
Beberapa alasan mengapa Silicon Valley mulai melirik metode ini meliputi:
Persaingan AI yang Agresif: Kecepatan inovasi AI memaksa perusahaan untuk merilis pembaruan dalam hitungan minggu, bukan lagi bulan.
Tekanan Investor: Modal besar yang masuk ke sektor AI menuntut hasil yang instan dan pertumbuhan eksponensial.
Mentalitas “Wartime”: Banyak CEO teknologi menganggap saat ini adalah masa perang teknologi, di mana hanya perusahaan dengan dedikasi waktu tertinggi yang akan bertahan.
Dampak Buruk Bagi Karyawan
Adopsi budaya kerja ini mulai memicu gelombang kelelahan ekstrem (burnout) di kalangan pekerja teknologi Amerika.
Kesehatan Mental: Kurangnya waktu istirahat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan kronis.
Penurunan Kreativitas: Secara paradoks, jam kerja yang terlalu panjang sering kali menurunkan kualitas kode dan inovasi jangka panjang.
Erosi Budaya Kerja Barat: Nilai keseimbangan hidup-kerja (work-life balance) yang selama ini diagungkan di AS kini terancam hilang demi efisiensi produksi.
Respon Industri dan Para Ahli
Meskipun dianggap efektif oleh beberapa petinggi perusahaan, banyak kritikus menilai bahwa “mengimpor” budaya kerja brutal ini adalah langkah mundur bagi hak-hak pekerja. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa regulasi yang ketat, perlombaan AI ini bisa berubah menjadi perlombaan “siapa yang paling tahan menderita”.
“AI seharusnya meringankan beban kerja manusia, namun ironisnya, saat ini AI justru membuat manusia bekerja lebih keras daripada robot,” ungkap seorang analis etika teknologi.[]









